Beberapa hari setelah ibu benar-benar pulih, hidup kembali seperti semula atau… setidaknya terlihat seperti semula.
Ibu kembali ke sawah. Ayah kembali dengan motor merahnya. Kakakku kembali dengan suara makannya yang… tidak pernah benar-benar hilang. Aku kembali ke sekolah tapi kali ini, ada satu hal yang berbeda.
Aku tidak lagi datang hanya untuk bertemu teman atau sekadar bermain saat istirahat.
Aku mulai… memperhatikan pelajaran. Sedikit tapi cukup untuk membuatku merasa aneh dengan diriku sendiri.
Pagi itu, aku berjalan menuju sekolah bersama ibu. Langkah kami pelan. Udara masih dingin. Jalan tanah sedikit basah.
Aku membawa tas. Ibu membawa cangkul kecil. Kami berjalan berdampingan.
“Bu,” kataku.
“Iya?”
“Aku mau belajar lebih rajin.”
Ibu menoleh sedikit terkejut dan tersenyum.
“Bagus.”
Aku mengangguk.
“Tapi… kalau aku malas lagi gimana?”
Ibu tertawa kecil.
“Ya diingatkan lagi.”
“Oleh ayah?”
“Bisa.”
Aku ikut tertawa.
“Iya juga.”
Kami sampai di gerbang sekolah dan Ibu berhenti seperti biasa.
“Masuk yang rajin,” katanya.
Aku mengangguk.
“Jangan berantem.”
“Iya, Bu.”
“Jangan malas belajar.”
Aku tersenyum.
“Ini juga?”
Ibu tersenyum balik.
“Ini paling penting.”
Aku menghela napas kecil tapi kali ini… sambil tersenyum.
“Iya, Bu.”
Aku masuk ke sekolah. Melangkah ke kelas.
Seperti biasa
“Eh, KUTILANG datang!”
Suara itu langsung menyambutku. Aku berhenti dan menoleh.
Beberapa anak tertawa.
Aku melihat mereka beberapa detik.
Lalu…aku tersenyum.
“Lengkap ya hari ini,” kataku.
Mereka sedikit bingung.
“Kenapa?” tanya salah satu.
“Biasanya kalian lupa panggil,” jawabku santai.
Mereka saling pandang sambil tertawa. Bukan menertawakan tapi… bersama.
Aku duduk di bangku membuka buku.
Teman di sebelahku melirik.