Sejujurnya…aku bukan anak yang pendendam. Aku juga bukan anak yang langsung lupa. Apalagi kalau yang kena itu… harga diri. Dan kemarin aku kena. Bukan karena batu tapi karena kalimat:
“Pecah tidak kaca rumahmu?”
Itu bukan sekadar pertanyaan, itu… sindiran level tinggi. Sayangnya…aku tidak punya jawaban waktu itu. Jadi malam itu, sebelum tidur, aku membuat keputusan besar. Sangat besar. Aku akan balas versi aku. Versi yang tidak dimarahi ibu dan tidak membuat ayah ceramah panjang. Yang… ya, pintar setidaknya… kelihatan pintar.
Aku menatap langit-langit. Berpikir keras.
“Kalau dilempari balik… jelas dimarahi,” gumamku.
“Kalau dilaporkan… tidak boleh, didiamkan… kayak kalah.”
Aku duduk menarik selimut.
“Harus ada cara lain.”
Aku berpikir lagi.
“Ah! Ketemu!”
Aku tersenyum lebar, rencana cerdas. Sangat cerdas menurutku.
***
Keesokan harinya, aku bangun dengan semangat yang tidak biasa. Bukan karena belajar atau sekolah. Tapi karena… misi rahasia.
Aku keluar rumah. Mengintip ke arah rumah tetangga.
Target belum terlihat.
Aku mulai menyiapkan “alat”.
Sebuah kertas, pensil, dan tulisan.
Aku menulis pelan supaya rapi biar terlihat… serius setelah selesai, aku membaca ulang:
“DILARANG MELEMPAR BATU KE RUMAH ORANG. BISA KENA BALASAN TAK TERDUGA.”
“Bagus.”
Sedikit menakutkan, misterius, dan cukup keren.
Menurutku.
Aku melipat kertas itu lalu berjalan pelan ke depan rumah tetangga.
Jantungku berdebar seperti pencuri. Padahal… cuma menaruh kertas. Aku menempelkan kertas itu di pagar merekaenggunakan… air liur.
Ya.
Tidak ada lem Jadi… ya itu yang tersedia.
“Maaf ya, kertas…” gumamku.
Setelah itu, aku lari masuk rumah.
Beberapa menit.
Sepuluh menit.
Lima belas menit.
“IBU!!!”
Suara dari rumah sebelah keras sekali.
Aku langsung berdiri.