Setelah kejadian “balas dendam gagal total” itu, aku membuat keputusan penting lagi yang… terdengar sangat mulia. Aku akan jadi anak baik. Serius. Bukan setengah-setengah. Aku bahkan memberi nama untuk rencanaku: Operasi Jadi Anak Baik.
Keren, kan?
Walaupun… nanti hasilnya tidak sekeren namanya.
***
Pagi itu, aku bangun lebih cepat tanpa dipanggil dan diseret ayah.
Aku duduk di kasur menatap ke depan.
“Ini dia… hari pertama,” gumamku.
Aku langsung berdiri menuju tempat wudhu. Shalat dengan sadar. Pakai niat. Setelah selesai, aku keluar.
Ayah sedang duduk seperti biasa. Topi… tentu saja sudah di kepala.
Aku mendekat.
“Ayah,” kataku.
Ayah menoleh.
“Iya?”
“Aku sudah shalat,” kataku.
Ayah mengangguk.
“Bagus.”
***
Langkah berikutnya: membantu ibu.
Aku masuk ke dapur ibu sedang memasak.
“Bu, mau bantu,” kataku.
Ibu berhenti. Menatapku dari atas sampai bawah, lama.
Aku mulai tidak nyaman.
“Kenapa, Bu?” tanyaku.
“Kamu siapa?” jawab ibu.
Aku langsung tertawa.
“Ibu…”
Ibu ikut tersenyum.
“Jarang sekali kamu bilang begitu.”
Aku mengangguk.
“Sekarang sering.”
Ibu menyerahkan sesuatu.
“Ini… potong sayur.”
Aku menerima dengan percaya diri. Sangat percaya diri.
Aku mulai memotong dengan hati-hati.
Satu potong.
Dua potong.
Tiga potong
“Ca…”
“Iya, Bu?”
“Itu bukan sayurnya.”
Aku berhenti melihat ke bawah.
Tanganku…memotong cabe. Banyak sekali.
“Eh…”
Ibu menahan tawa.
“Aku tidak lihat,” kataku cepat.
Ibu tertawa.
“Tidak apa-apa. Nanti kita makan pedas.”
Aku ikut tertawa.
“Bagus juga.”
***
Langkah ketiga: tidak berantem. Ini yang paling sulit. Karena…kakakku ada. Dan kakakku… memang punya bakat alami untuk membuatku kesal.
Aku duduk di ruang depan membaca buku. Berusaha terlihat rajin.
Kakakku datang.