Kutilang

Nova Yarnis
Chapter #19

Rahasia Ayah yang Tidak Pernah Diceritakan

Ada satu hal yang mulai kusadari pelan-pelan tentang ayah.

Ayah itu… tidak banyak cerita.

Kalau ditanya, jawabnya singkat.

Kalau tidak ditanya… ya diam saja.

Bukan karena tidak punya cerita.

Tapi seperti… tidak merasa perlu menceritakannya.

Dan justru itu yang membuatku penasaran.

Sangat penasaran.

 

Sore itu, hujan turun. Tidak terlalu deras tapi cukup untuk membuat tanah jadi becek dan permainan jadi batal. Aku duduk di depan rumah. Melihat hujan jatuh satu-satu. Membentuk garis-garis tipis.

Tidak ada teman.

Tidak ada permainan.

Hanya aku.

Dan… rasa bosan.

 

Aku menoleh ke belakang. Ayah duduk di kursi kayu. Topinya masih di kepala seperti biasa. Aku berjalan mendekat. Duduk di lantai, dekat kakinya.

Diam.

Menunggu.

Ayah tidak bicara. Aku juga tidak.

Beberapa menit berlalu akhirnya… aku tidak tahan.

“Ayah,” kataku.

“Iya?”

“Ayah dulu waktu kecil… bagaimana?”

Ayah berhenti sejenak seperti tidak menyangka pertanyaan itu.

“Kenapa tanya begitu?” katanya.

Aku mengangkat bahu.

“Penasaran saja.”

Ayah mengangguk pelan lalu… diam lagi.

Aku menunggu.

Sepuluh detik.

Dua puluh detik.

Tiga puluh

“Ayah dulu… juga anak kecil,” katanya.

Aku langsung menoleh.

“Ya iyalah…”

Ayah tersenyum sedikit. Aku mendesah.

“Itu bukan jawaban.”

Ayah tertawa kecil. Jarang. Sangat jarang. Dan itu membuatku langsung lebih semangat.

“Mainnya apa dulu?” tanyaku lagi.

Lihat selengkapnya