Kalau dipikir-pikir…hidupku tidak pernah benar-benar tenang. Selalu saja ada kejadian. Kalau bukan karena kakakku…ya karena aku sendiri. Dan hari itu masalahnya datang dari sesuatu yang… sangat sederhana:sandal.
***
Pagi itu, aku bangun seperti biasa. Tidak terlalu pagi. Tidak terlalu siang. Masih dalam kategori “aman dari marah ayah”.
Aku duduk di depan pintu. Mengambil sandalku. Dan langsung berhenti.
“Lho…”
Aku mengangkat satu sandal. Merah. Aku mengangkat yang satunya. Hijau.
Aku diam. Menatap keduanya.
“Ini… sejak kapan jadi beda?” gumamku.
Aku mencoba mengingat. Kemarin… rasanya masih sama. Atau mungkin… aku saja yang tidak sadar.
Aku menoleh ke dalam.
“Kak!” teriakku.
“Iya!” jawab kakakku dari dalam.
“Kau lihat sandal aku tidak?”
Dia keluar. Melihat kakiku. Lalu tertawa. Keras sekali.
“Kenapa kau pakai dua warna?” katanya.
Aku cemberut.
“Bukan pakai! Ini memang begini!”
Dia masih tertawa.
“Bagus… biar mudah dicari.”
Aku mendengus.
“Tidak lucu.”
Dia mengangkat bahu.
“Lucu.”
***
Aku tidak punya pilihan. Sandal lain… tidak ada. Atau lebih tepatnya… belum ada. Karena seperti biasa.
“nanti kalau ada uang.”
Aku menghela napas.
“Ya sudah.”
Aku pakai juga. Satu merah. Satu hijau. Dan aku melangkah keluar rumah… dengan rasa percaya diri yang… dipaksakan.
***
Di jalan… beberapa orang melihat. Sebentar. Lalu melanjutkan jalan.
Aku pura-pura tidak sadar. Padahal sangat sadar.
Setiap langkah terasa seperti bunyi:
“Lihat aku… lihat aku…”
Aku mempercepat langkah. Sampai akhirnya
“CAAA!”
Teman-temanku sudah menunggu.
Aku berhenti.
Menarik napas.
Lalu berjalan mendekat.
“Lama sekali!” kata salah satu.
Aku mengangguk.
“Iya… sedikit.”
Lalu… mereka melihat. Satu per satu. Turun ke kaki. Dan hening.
Dua detik.
Tiga detik.
Lalu
“HAHAHAHAHAHA!”
Ledakan tawa keras bersama-sama.
Aku menutup mata.
Sudah kuduga.
“Ini gaya baru ya?” kata salah satu.
“Namanya apa? Merah-hijau fashion?” tambah yang lain.
Aku membuka mata. Menatap mereka. Lalu… aku ikut tertawa.
“Iya,” kataku.
“Ini edisi terbatas.”