Pagi berikutnya…aku bangun dengan satu harapan sederhana: sandal itu sudah sembuh.
Aku langsung duduk. Melihat ke arah pintu. Dan di sana sandal merah-hijau legendarisku…tergeletak.
Aku berdiri.
Mendekat.
Mengambilnya.
Dan…aku diam.
“Ini… makin aneh,” gumamku.
Sandal merahku sekarang… sudah disambung dengan tali. Bukan tali biasa tapi… tali raffia yang biasanya dipakai untuk mengikat karung.
Aku mengangkat sandal itu tinggi-tinggi. Menatapnya seperti benda bersejarah.
“Ini bukan sandal lagi… ini karya seni,” kataku pelan.
Kakakku muncul dari belakang. Melihat. Lalu tertawa. Seperti biasa.
“Ini sandal atau proyek sekolah?” katanya.
Aku menoleh.
“Ini… hasil kerja ayah.”
Kakakku mengangguk.
“Berarti kuat.”
Aku menyipitkan mata.
“Itu pujian atau ejekan?”
“Dua-duanya,” jawabnya santai.
***
Aku tetap memakainya karena…ya memang itu satu-satunya yang ada. Dan entah kenapa…aku mulai merasa bangga. Bukan karena tampilannya. Tapi karena… ada cerita di baliknya.
Aku keluar rumah.
Melangkah.
Sandalnya berbunyi sedikit.
cek… cek…
Aku berhenti. Melihat ke bawah.
“Mudah-mudahan tidak putus lagi,” gumamku.
Lalu lanjut jalan.
Seperti biasa teman-temanku sudah berkumpul.
Aku datang. Dan mereka melihat ke bawah.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu
“HAHAHAHAHAHA!”
Aku langsung angkat tangan.
“Tunggu! Jangan langsung ketawa!”