Kalau sudah sore… ada satu tempat yang selalu jadi pusat kehidupan kami: halaman rumah gadang. Tempat itu seperti dunia lain. Dunia tanpa marah. Tanpa larangan berlebihan. Dan yang paling penting tanpa orang tua yang tiba-tiba muncul dari belakang. Kecuali… nenek pemilik rumah itu. Tapi beliau beda. Beliau lebih sering memberi makanan daripada memberi ceramah. Jadi… aman.
***
Sore itu, kami berkumpul seperti biasa.
Aku.
Kakakku.
Dan beberapa teman.
“Main apa hari ini?” tanya salah satu.
“Main biasa saja bosan,” jawab yang lain.
Aku berpikir. Lalu berkata pelan,
“Gimana kalau… kita buat misi?”
Semua langsung menoleh.
“Misi apa?” tanya mereka.
Aku mendekat. Berbisik. Seolah-olah ini sangat rahasia.
“Masuk ke dalam rumah gadang.”
Hening. Dua detik. Lalu
“HAH?!”
Aku tersenyum.
“Nggak jauh kok… cuma sampai ruang depan.”
Salah satu langsung menggeleng.
“Tidak berani.”
“Takut sama nenek?” tanyaku.
“Bukan… takut sama lantainya bunyi.”
Aku tertawa.
“Iya juga sih…”
***
Rumah gadang itu…indah. Tapi juga… sedikit menakutkan. Kayunya tua. Lantainya berbunyi. Setiap langkah seperti mengumumkan: “ADA ORANG MASUK!” Dan itu yang membuat misi ini…menarik.
Akhirnya, kami sepakat. Kami akan masuk pelan-pelan. Tanpa suara. Seperti pencuri. Padahal… tidak mencuri apa-apa. Hanya… penasaran.
Kami mendekat. Pelan. Sangat pelan. Aku di depan. Karena… ya, aku yang punya ide. Kalau lari… juga aku yang duluan.
Aku naik ke tangga.
Kreek…
Aku berhenti. Semua membeku.
“Kau injak apa sih?” bisik salah satu.
“Lantai,” jawabku pelan.
Mereka menahan tawa. Aku melangkah lagi.
Kreek… kreek…
Aku menarik napas.
“Ini rumah atau alat musik…” gumamku.
Kami masuk sampai di pintu. Terbuka sedikit. Aku mendorong. Pelan.