Sejak kejadian “misi rahasia rumah gadang” yang berakhir dengan makan gratis itu kami merasa seperti tim profesional. Serius. Bukan lagi anak-anak biasa. Tapi anak-anak yang punya pengalaman. Yang sudah pernah “menembus wilayah berbahaya” dan keluar dengan selamat. Bahkan… kenyang. Dan seperti semua tim hebat kami mulai terlalu percaya diri.
Sore itu, permainan kami semakin liar. Bukan hanya main karet. Bukan hanya lari-larian. Tapi mulai ada ide-ide aneh.
“Ayo kita main ke belakang bukit!” kata salah satu temanku.
Aku langsung menoleh.
“Yang dekat sungai itu?”
“Iya!”
Aku berpikir. Itu tempat lumayan jauh. Dan satu hal penting kalau sudah ke sana biasanya lupa waktu. Aku menelan ludah.
“Boleh… tapi sebentar saja.”
Semua langsung mengangguk.
Yang artinya: tidak akan sebentar.
***
Kami berjalan. Lewat jalan kecil. Lewat semak-semak. Melompati batu. Sampai akhirnya kami sampai di tempat itu.
Sungai kecil. Airnya jernih. Batu-batu besar di sekelilingnya. Dan yang paling penting tidak ada orang dewasa.
“Waaaah!” teriak salah satu.
Kami langsung berlarian.
Main air.
Lompat batu.
Basah.
Kotor.
Tertawa.
Semua terasa sempurna.
***
Aku berdiri di atas batu. Mengangkat tangan. Seperti pemimpin.
“Ini markas baru kita!” kataku.
Teman-teman bersorak.
“Setuju!”
Aku tersenyum bangga.
Operasi sukses lagi.
Waktu berjalan cepat sekali. Terlalu cepat. Kami tidak sadar bahwa langit mulai berubah. Dari terang menjadi kuning. Dari kuning menjadi jingga. Dan dari jingga mulai gelap.
Tiba-tiba
“CAAA!”
Suara itu. Jauh. Tapi jelas.
Aku membeku. Teman-temanku juga. Kami saling pandang.
“Itu… ibumu?” tanya salah satu.
Aku mengangguk pelan.