Kutilang

Nova Yarnis
Chapter #24

Hari Ketika Aku Hampir Jadi "Hantu Senja"

Sejak kejadian “kabur dari senja” itu aku mulai merasa satu hal: aku harus lebih pintar. Bukan pintar pelajaran. Tapi pintar mengatur waktu. Supaya bisa main lama tanpa dimarahi. Strategi. Perencanaan. Dan tentu saja eksekusi yang sempurna. (Ya, setidaknya menurutku.)

Sore itu, aku sudah siap. Aku bahkan membuat rencana di kepala:

Main sampaia tenggelam.

Pulang sebelum dipanggil

masuk rumah dengan wajah polos.

Selesai.

“Gampang,” gumamku.

Aku tersenyum.

Ini pasti berhasil.

***

Aku keluar rumah. Teman-teman sudah menunggu.

“Kemana hari ini?” tanya salah satu.

Aku mengangkat tangan.

“Dekat saja.”

Mereka langsung curiga.

“Biasanya kau yang ngajak jauh.”

Aku mengangguk.

“Hari ini kita pakai strategi.”

Mereka saling pandang.

“Strategi apa?”

Aku mendekat. Berbisik.

“Pulang sebelum dipanggil.”

Hening.

Lalu

“HAHAHAHA!”

Mereka tertawa.

“Tidak mungkin!”

Aku menyilangkan tangan.

“Kita lihat saja.”

Kami bermain seperti biasa.

Main karet.

Lari.

Tertawa.

Tapi kali ini aku sering melihat ke langit.

Memantau.

Seperti penjaga waktu.

“Belum,” gumamku.

Main lagi. Beberapa menit. Aku lihat lagi.

“Masih aman.”

Teman-temanku mulai kesal.

“Kau kenapa sih lihat langit terus?” tanya salah satu.

“Ini strategi,” jawabku serius.

Mereka menggeleng.

“Ribet.”

***

Waktu berjalan. Langit mulai berubah. Aku melihat.

Ini dia.

Aku berdiri.

“Ayo pulang,” kataku.

Semua langsung berhenti.

“Masih sore!” protes mereka.

Aku menunjuk langit.

“Itu sudah tanda.”

Mereka melihat.

“Masih terang!”

Aku menggeleng.

“Kalian tidak mengerti.”

Aku mulai berjalan dengan penuh keyakinan. Seperti orang yang tahu arah hidupnya. Padahal… belum tentu.

Lihat selengkapnya