Kutilang

Nova Yarnis
Chapter #25

Hari Ketika Kami Jadi "Tim Penyelamat" yang Salah Total

Setelah kejadian “hantu senja bolak-balik” itu aku mulai merasa satu hal: aku mungkin bukan ahli strategi. Tapi…aku masih punya peluang jadi pahlawan. Setidaknya… menurut pikiranku sendiri.

Sore itu, seperti biasa, kami berkumpul di halaman rumah gadang. Angin pelan. Langit cerah. Semua terlihat normal. Sampai

“Eh! Lihat itu!”

Salah satu temanku menunjuk ke arah pohon manggis. Kami semua menoleh. Dan di sana seekor anak kucing. Kecil. Kurang lebih… sebesar telapak tangan. Nyangkut. Di dahan. Dan mengeong keras.

“Meooonggg!”

Kami semua langsung berdiri.

Serius.

Sangat serius.

Ini bukan mainan. Ini… misi.

“Dia tidak bisa turun,” kata salah satu.

“Kasihan,” tambah yang lain.

Aku maju. Menatap ke atas. Lalu berkata dengan suara tegas:

“Kita harus selamatkan.”

Semua langsung diam menatapku. Seperti melihat pemimpin. Aku mengangguk.

“Ini… tugas kita.”

Kami langsung membentuk tim. Ya… walaupun tidak resmi.

“Aku naik,” kataku.

“Tidak boleh, kau paling ringan!” protes salah satu.

“Itu justru bagus,” jawabku.

Mereka berpikir. Lalu mengangguk.

“Iya juga…”

Aku tersenyum.

Lihat? Aku bisa jadi pemimpin.

Kami mencari alat. Kayu panjang. Kursi tua. Dan… keberanian yang sebenarnya tidak terlalu banyak.

Aku berdiri di atas kursi. Memegang kayu. Menatap ke atas.

“Tenang ya…” kataku ke kucing.

Kucing itu menatapku.

Lalu

“MEONG!!!”

Lebih keras.

Aku kaget. Hampir jatuh.

“Dia marah!” teriak temanku.

“Tidak… dia panik!” jawabku.

Padahal… aku juga panik.

Aku mengangkat kayu. Mencoba menyentuh dahan.

Gagal.

Kurang tinggi.

“Ayo dorong kursinya!” kataku.

Temanku mendorong pelan.

Lihat selengkapnya