Aku punya satu rahasia. Sebenarnya… aku juga bisa ngambek.
Tidak selalu ceria.
Tidak selalu kuat.
Kadang… ya pengen saja marah.
Masalahnya aku tidak pintar ngambek.
Serius.
Hari itu, semuanya bermula dari hal kecil.
Sangat kecil.
Tapi seperti biasa…kalau sudah kena hati jadi besar.
***
Sore itu kami bermain seperti biasa.
Main karet.
Lompat.
Putar.
Tertawa.
Sampai akhirnya
“Caca kalah!”
Aku langsung berhenti.
“Tidak!” kataku.
Temanku menunjuk.
“Kau kena tadi!”
Aku menggeleng.
“Tidak kena!”
Mereka semua mulai bicara.
“Iya kena!”
“Jelas kena!”
“Aku lihat!”
Aku mulai kesal.
“Tidak kena!” kataku lebih keras.
Kakakku ikut bicara,
“Kena.”
Aku langsung menoleh.
“Kau tidak bela aku?”
Dia mengangkat bahu.
“Kalau salah ya salah.”
Itu dia. Kalimat itu yang membuat semuanya berubah.
Aku diam beberapa detik.
Lalu…aku berjalan keluar dari lingkaran.
Duduk di pinggir.
Melipat tangan.
Menunduk.
“Sudah… aku tidak mau main,” kataku.
Teman-temanku saling pandang.
“Ngambek?” tanya salah satu.
Aku tidak menjawab.
Hanya diam.
Menatap tanah.
Dalam hati aku merasa benar.
Sangat benar.
Aku berkata pada diri sendiri:
Mereka tidak adil.
Mereka tidak mengerti.