Kutilang

Nova Yarnis
Chapter #27

Lomba yang Tidak Resmi Tapi Sangat Serius

Di kampung kami tidak ada yang namanya jadwal lomba.

Tidak ada spanduk.

Tidak ada hadiah.

Tidak ada piala.

Tapi kalau sudah berkumpul dan ada satu orang yang berkata, “ayo kita lomba” maka dalam hitungan detik itu akan berubah jadi kompetisi paling serius di dunia.

Dan hari itu tanpa rencana dan tanpa aba-aba kami menciptakan satu lomba yang entah kenapa terasa seperti menentukan masa depan: lomba lompat karet.

Sore itu, langit cerah.

Angin pelan.

Tanah agak kering.

Dan halaman rumah gadang seperti biasa jadi arena utama.

Aku datang dengan sandal rafia kebanggaanku.

Yang sekarang sudah tidak hanya unik tapi juga berbunyi setiap langkah.

cek… cek…

Teman-temanku langsung menoleh.

“Eh, suara apa itu?” kata salah satu.

Aku langsung menjawab santai,

“Itu suara kemenangan.”

Mereka tertawa.

“Kemenangan dari mana?”

Aku mengangkat bahu.

“Dari hati.”

Mereka langsung tertawa lebih keras.

Kami mulai bermain seperti biasa.

Dua orang memegang karet yang lain berbaris menunggu giliran.

Suasana santai.

Tidak ada tekanan.

Sampai salah satu temanku berkata,

“Ayo kita lomba!”

Semua langsung berhenti.

Seperti ada tombol yang ditekan.

Aku menoleh.

“Lomba apa?”

“Lompat karet,” katanya.

Aku langsung berdiri.

Menegakkan badan.

“Setuju.”

Teman-teman lain ikut bersuara,

“Setuju!”

“Setuju!”

“Setuju!”

Dan dalam waktu kurang dari lima detik kami berubah dari sekadar anak bermain menjadi peserta lomba yang sangat serius.

“Ada aturan!” kataku.

Semua langsung diam menatapku.

Aku tidak tahu kenapa tapi setiap ada hal seperti ini aku selalu merasa jadi panitia. Padahal tidak pernah ditunjuk.

Aku mengangkat jari.

“Satu.”

Semua fokus.

“Yang kalah… keluar.”

Mereka mengangguk.

“Itu biasa!” kata salah satu.

Aku mengangkat jari lagi.

“Dua.”

Semua menunggu.

“Yang kalah… tidak boleh ikut satu ronde.”

Beberapa mulai berpikir.

“Itu kejam,” kata temanku.

Aku mengangguk.

“Iya. Namanya juga lomba.”

Mereka saling pandang.

 “Setuju!”

Aku tersenyum.

Permainan dimulai.

***

Putaran pertama karet masih rendah. Sebatas mata kaki. Semua bisa. Semua lolos. Bahkan yang paling ceroboh sekalipun.

Aku melompat santai.

Hampir seperti tidak serius.

Dalam hati:

Ini gampang.

Putaran kedua karet naik sedikit.

Sekitar lutut.

Beberapa mulai gugup.

Salah satu temanku melompat kena.

“Keluar!” teriak yang lain.

Dia langsung protes.

“Tadi tidak kena!”

“Jelas kena!”

“Sedikit saja!”

“Sedikit itu tetap kena!”

Aku berdiri di tengah mengangkat tangan.

“Keputusan… tetap!”

Semua langsung diam.

Dia keluar.

Dengan wajah setengah kesal.

Setengah malu.

Aku menoleh ke yang lain.

“Lanjut!”

Putaran ketiga mulai serius.

Karet setinggi paha.

Lihat selengkapnya