Ada satu hal yang mulai aku sadari akhir-akhir ini.
Ayah itu bukan orang yang banyak bicara.
Bahkan… bisa dibilang sangat sedikit.
Kalau orang lain bercerita panjang ayah cukup dengan satu kalimat.
Kadang bahkan… satu kata.
Dan anehnya aku mulai mengerti.
***
Sore itu, aku pulang lebih cepat bukan karena rajin.
Bukan juga karena ingat waktu.
Tapi karena tidak ada yang bisa dimainkan lagi.
Teman-temanku sudah pulang.
Langit mulai gelap.
Dan untuk pertama kalinya aku tidak ingin jadi “hantu senja” lagi.
Aku masuk ke rumah.
Ibu sedang di dapur.
Aku langsung ke belakang.
Dan di sana ayah duduk.
Memperbaiki sesuatu.
Aku tidak tahu apa tapi kelihatannya penting.
Karena wajahnya serius.
Aku mendekat.
Duduk di sampingnya.
Diam.
Menunggu.
Ayah tidak bicara.
Beberapa menit berlalu.
Akhirnya…aku yang mulai.
“Ayah,” kataku.
“Iya?”
“Ayah capek?”
Ayah berhenti sebentar.
Lalu menjawab,
“Biasa.”
Aku mengangguk.
“Biasa itu capek atau tidak?”
Ayah menoleh sedikit.
“Capek… tapi tidak masalah.”
Aku diam.
Berpikir.
Jawaban itu aneh.
Tapi juga… masuk.
Aku melihat tangannya.
Masih kotor.
Ada bekas luka kecil.
Aku menunjuk.
“Itu kenapa?”
Ayah melihat.
“Oh… kena kayu.”
Aku mengerutkan kening.
“Sakit?”
Ayah menjawab santai,
“Tidak.”
Aku langsung berkata,
“Pasti sakit.”
Ayah tersenyum sedikit.
“Sedikit.”
Aku mengangguk.
“Nah, itu baru jujur.”
Ayah tertawa kecil.
Jarang.