Ada satu hal yang selalu terjadi di rumah kami. Tidak peduli seberapa sering kami tinggal di sana, selalu ada bagian rumah yang terasa seperti menyimpan rahasia. Padahal rumah itu bukan istana. Bukan rumah besar dengan banyak kamar. Bukan rumah dengan pintu tersembunyi seperti di film. Dan entah kenapa, semakin lama aku tinggal di sana, semakin banyak tempat yang baru aku kenal.
Seperti hari itu. Hari ketika rumah kami tiba-tiba berubah menjadi markas rahasia.
Semuanya bermula dari kalimat yang sebenarnya sederhana.
“Ayo cari tempat persembunyian.”
Kalimat itu keluar dari mulut Rina. Dan seperti biasa, kalimat sederhana dari teman-temanku selalu punya akibat yang tidak sederhana.
Aku yang sedang duduk di tangga rumah langsung menoleh.
“Persembunyian untuk apa?”
Rina mengangkat bahu.
“Ya… untuk bersembunyi.”
Aku mengerutkan kening.
“Itu jawabannya bukan jawaban.”
Rina tertawa.
“Yang penting ada tempat.”
Teman-teman lain mulai berdatangan. Dalam waktu lima menit, halaman rumah berubah menjadi tempat rapat penting. Padahal sebenarnya kami hanya anak-anak yang sedang mencari tempat untuk duduk sambil makan jambu. Tapi begitulah kami. Kalau sudah berkumpul, semua hal terasa serius.
“Aku punya ide,” kata kakakku.
Semua langsung menoleh.
“Kita buat markas.”
“Markas?”
“Iya.”
“Untuk apa?”
Kakakku berpikir sebentar.
Lalu menjawab,
“Belum tahu.”
Kami semua diam lalu tertawa.
“Itu namanya bukan markas,” kataku.
“Terus?”
“Namanya tempat kosong.”
“Tapi kalau diberi nama keren jadi markas.”
Aku mengangguk. Masuk akal.
Akhirnya kami sepakat. Kami akan membuat markas rahasia. Dan tempat pertama yang kami pilih adalah…rumah kami sendiri.
Kami mulai mencari. Bagian depan rumah terlalu terbuka. Semua orang bisa melihat.
Bagian dapur tidak mungkin. Ibu pasti tahu. Dan kalau ibu tahu kami membuat markas, kemungkinan besar markas itu akan berubah menjadi tempat menyimpan kayu bakar. Karena menurut ibu:
“Tempat kosong harus berguna.”
Itulah prinsip ibu.
Tidak ada ruang yang boleh hanya untuk bermain. Bahkan tempat bermain pun harus bisa digunakan untuk menyimpan sesuatu.
Kami berjalan mengelilingi rumah. Melihat setiap sudut. Sampai akhirnya kami menemukan satu tempat. Di belakang rumah. Dekat kolong.
“Ini dia,” kata Rina.
Aku melihat. Tempat itu agak gelap. Ada beberapa papan kayu lama. Ada keranjang bambu. Ada benda-benda yang sudah jarang dipakai. Aku langsung merasa seperti menemukan dunia baru.
“Kenapa aku baru tahu tempat ini?” kataku.
Kakakku tersenyum.
“Karena selama ini kau cuma lari-lari di halaman.”