Kutilang

Nova Yarnis
Chapter #30

Hari Ketika Rumah Kami Kedatangan Banyak Orang

Ada hari-hari tertentu ketika rumah kami berubah. Bukan berubah bentuk. Tiangnya tetap sama. Dindingnya tetap sama. Tapi suasananya berubah. Seperti rumah itu tiba-tiba bangun dari tidur panjang.

Hari itu adalah salah satunya. Hari ketika rumah kami kedatangan banyak orang.

Pagi itu aku sebenarnya masih ingin tidur. Bukan karena mengantuk. Tapi karena kasur terasa terlalu nyaman.

Ada satu hukum alam yang menurutku tidak pernah ditulis dalam buku pelajaran: Semakin banyak orang menyuruh kita bangun, semakin sulit mata terbuka.

“Bangun!”

Suara ibu terdengar dari luar kamar.

Aku diam.

“Sudah pagi!”

Aku tetap diam.

“Bantu ibu!”

Aku membuka satu mata.

“Bantu apa, Bu?”

“Bantu bangun.”

Aku langsung membuka kedua mata.

“Itu aku bisa sendiri.”

Ibu tertawa kecil.

“Kalau begitu bangun.”

Aku duduk. Rambut berantakan. Selimut masih menempel.

Aku melihat keluar jendela. Halaman rumah sudah ramai.

Aku langsung terkejut.

“Kenapa banyak orang?”

Ibu menjawab santai.

“Hari ini keluarga datang.”

Aku langsung berdiri.

“Keluarga siapa?”

Ibu menatapku.

“Keluarga kita.”

Aku mengangguk. Lalu berpikir. Jawaban ibu memang benar. Tapi tidak membantu.

Sejak pagi rumah kami seperti sarang lebah. Semua bergerak.

Ada yang membawa makanan.

Ada yang membawa barang.

Ada yang duduk bercerita.

Ada yang tertawa.

Ada yang bertanya kabar.

Dan tentu saja…ada anak-anak kecil yang berlari tanpa merasa mereka adalah penyebab kekacauan.

Aku melihat satu anak kecil berlari melewati ruang tengah. Kemudian kembali lagi. Lalu berlari lagi.

Aku bingung.

“Kamu cari apa?”

Dia berhenti.

“Tidak tahu.”

Aku mengangguk.

Jawaban itu sangat jujur. Karena anak kecil memang sering berlari tanpa tujuan. Yang penting bergerak.

Dapur menjadi tempat paling sibuk. Ibu dan beberapa tante memasak.

Suara pisau.

Suara panci.

Suara orang berbicara.

Semuanya bercampur.

Aku berdiri di pintu.

“Bu, perlu bantuan?”

Ibu menoleh.

Lihat selengkapnya