Kutilang

Nova Yarnis
Chapter #31

Ketika Hujan Membuat Kami Terjebak di Rumah

Ada satu hal yang selalu berhasil mengubah rencana anak-anak. Bukan larangan orang tua. Bukan rasa malas. Bukan juga tugas sekolah.

Tapi…hujan.

Hujan memiliki kekuatan luar biasa. Ia bisa membuat lapangan sepak bola berubah menjadi kolam. Bisa membuat sandal menjadi berat. Bisa membuat orang yang tadi berkata,

“Aku mau main sampai sore!”

lima menit kemudian berkata,

“Aku pulang dulu.”

Dan hari itu hujan datang tanpa pemberitahuan.

Pagi itu langit masih cerah. Aku sudah punya rencana.

Bermain di halaman. Mencari buah jatuh. Mungkin pergi ke rumah teman. Pokoknya keluar rumah. Karena bagi anak-anak sepertiku, berada di dalam rumah terlalu lama terasa seperti hukuman. Bukan karena rumah tidak nyaman. Tapi karena halaman selalu punya cerita baru.

Ada pohon yang bisa dipanjat.

Ada tanah yang bisa diinjak.

Ada teman yang bisa diajak tertawa.

Tapi semua rencana itu berubah ketika awan mulai berkumpul.

Aku sedang memakai sandal ketika ibu berkata,

“Jangan pergi.”

Aku menoleh.

“Kenapa?”

Ibu menunjuk langit. Aku melihat gelap. Sangat gelap.

“Sebentar lagi hujan.”

Aku melihat ke langit. Lalu melihat sandalku. Lalu melihat halaman. Aku masih berharap.

“Barangkali tidak jadi.”

Ibu tersenyum.

“Kalau awan sudah seperti itu, biasanya jadi.”

Dan benar.

Beberapa menit kemudian…

Brukk!

Suara petir terdengar. Lalu hujan turun.

***

Awalnya aku senang. Aku duduk dekat jendela. Melihat air jatuh dari atap. Mendengar suara hujan mengenai halaman.

Rumah terasa berbeda.

Lebih tenang.

Lebih hangat.

Aku bahkan berpikir:

Mungkin di rumah juga menyenangkan.

Tapi…pikiran itu hanya bertahan sekitar dua puluh menit. Setelah itu aku mulai bosan.

Aku berjalan dari kamar ke ruang tengah. Ke dapur. Kembali lagi.

Ibu melihatku.

“Kamu mencari apa?”

Aku menjawab jujur.

“Tidak tahu.”

Ibu tertawa.

“Kalau begitu duduk.”

“Tapi bosan.”

“Baca buku.”

“Sudah.”

“Main sesuatu.”

“Tidak tahu apa.”

Ibu menggeleng.

“Anak zaman sekarang aneh.”

Aku terdiam.

Lihat selengkapnya