Kutilang

Nova Yarnis
Chapter #32

Ketika Aku Mulai Mengerti Mengapa Ayah Bertahan

Dulu aku berpikir ayah adalah orang paling kuat di dunia. Bukan karena ayah bisa mengangkat benda berat. Bukan karena ayah bisa bekerja seharian. Bukan juga karena ayah jarang sakit.

Tapi karena ayah hampir tidak pernah mengeluh. Kalau lelah, ayah hanya berkata:

“Biasa.”

Kalau sakit, ayah berkata:

“Tidak apa-apa.”

Kalau ada masalah, ayah diam. Dan sebagai anak kecil, aku pernah berpikir:

Mungkin ayah memang tidak pernah takut. Mungkin ayah memang tidak pernah sedih.

Ternyata aku salah. Aku hanya belum cukup besar untuk memahami bahasa diam ayah.

***

Hari itu aku bangun lebih pagi dari biasanya. Bukan karena rajin. Aku masih tetap anak yang sulit bangun kalau tidak dipanggil ibu. Tapi pagi itu aku terbangun karena mendengar suara dari halaman.

Tok.

Tok.

Tok.

Suara palu.

Aku keluar kamar. Ayah sedang memperbaiki bagian pagar rumah.

Aku berdiri melihatnya.

“Ayah?”

Ayah menoleh.

“Iya?”

“Kenapa ayah kerja pagi-pagi?”

Ayah melihat pagar.

“Kalau ditunda nanti tambah rusak.”

Aku mengangguk.

Jawaban ayah memang selalu pendek. Tapi sering benar.

Aku mengambil kayu kecil.

“Boleh bantu?”

Ayah tersenyum.

“Boleh.”

Aku senang. Akhirnya aku mendapat tugas penting. Tapi ternyata membantu ayah tidak semudah yang kubayangkan.

Lima menit pertama aku semangat. Sepuluh menit kemudian tanganku pegal. Lima belas menit kemudian aku mulai mencari alasan.

“Ayah…”

“Iya?”

“Kalau istirahat sebentar boleh?”

Ayah tertawa kecil.

“Boleh.”

Aku duduk. Ayah tetap bekerja.

Aku memperhatikan tangan ayah. Tangan itu berbeda dengan tanganku. Tanganku masih halus. Tanganku masih mudah kotor hanya karena bermain tanah.

Tapi tangan ayah penuh cerita. Ada bekas luka kecil. Ada garis-garis. Ada bagian kasar karena pekerjaan.

Aku tiba-tiba bertanya,

“Ayah.”

“Iya?”

“Kenapa ayah selalu bekerja?”

Ayah berhenti sebentar.

Lalu menjawab,

“Karena harus.”

Aku menunggu tTapi ayah tidak melanjutkan.

Aku bertanya lagi.

Lihat selengkapnya