Ada satu hal yang dulu tidak pernah kupikirkan. Bahwa suatu hari nanti aku akan meninggalkan rumah. Bukan karena marah. Bukan karena tidak suka. Bukan karena ingin menjauh. Tapi karena hidup memang membawa manusia berjalan ke tempat yang berbeda.
Dulu aku mengira rumah adalah tempat yang akan selalu sama. Aku bangun di kamar yang sama. Makan di meja yang sama. Mendengar suara yang sama. Bermain di halaman yang sama. Tapi ternyata manusia tumbuh. Dan ketika manusia tumbuh, langkahnya mulai lebih jauh.
Hari itu datang lebih cepat daripada yang kubayangkan. Aku berdiri di kamar. Melihat barang-barang yang akan kubawa.
Baju.
Buku.
Beberapa benda kecil.
Dan tentu saja… buku cerita rumah kami.
Aku memegang buku itu lama. Benda itu sebenarnya tidak mahal.Tidak bagus. Hanya buku biasa. Tapi di dalamnya ada banyak hal yang tidak bisa dibeli.
Ada tawa.
Ada cerita.
Ada masa kecil.
Ibu masuk ke kamar.
“Kamu sudah siap?”
Aku mengangguk.
“Sudah.”
Ibu melihat sekeliling.
Lalu tersenyum.
“Kamar ini nanti sepi.”
Aku terdiam. Aku juga memikirkan hal yang sama. Selama ini aku tidak pernah membayangkan kamar ini tanpa suara langkahku. Tanpa buku berantakan. Tanpa barang yang kadang membuat ibu mengeluh.
“Jangan lupa pulang,” kata ibu.
Aku tersenyum.
“Pasti.”
Tapi dalam hati aku tahu. Pulang nanti mungkin tidak sesering dulu.
Ayah berada di luar. Duduk di tempat favoritnya.
Aku mendekat.
“Ayah.”
“Iya?”
“Aku pergi hari ini.”
Ayah mengangguk.
“Ayah tahu.”
Aku duduk di sampingnya. Tempat yang dulu sering kami gunakan untuk diam bersama.
Beberapa saat kami tidak berbicara.
Aneh.
Dulu aku sering ingin ayah bicara lebih banyak. Sekarang aku justru nyaman dengan diam itu. Karena aku sudah mengerti. Diam ayah bukan kosong. Diam ayah adalah cara menemani.
“Ayah.”
“Iya?”
“Ayah sedih?”
Ayah melihat halaman.
Lama.
Lalu menjawab,
“Iya.”
Aku sedikit terkejut.
Ayah jarang mengaku.
“Tapi tidak apa-apa.”