Ada satu hal yang baru aku pahami setelah bertahun-tahun pergi. Rumah ternyata tidak pernah benar-benar menunggu dengan cara yang kita bayangkan. Rumah tidak berdiri di depan pintu sambil melihat jalan. Rumah tidak bertanya,
“Kapan kamu pulang?”
Rumah tidak mengirim pesan.
Tidak menelepon.
Tidak mengeluh ketika kita terlalu lama pergi.
Tapi rumah punya caranya sendiri untuk menunggu.
Ia menyimpan.
Ia menjaga.
Ia tetap ada.
Sampai suatu hari langkah kita kembali menemukannya.
Bertahun-tahun setelah hari aku pergi, aku akhirnya kembali.
Bukan karena ada acara besar.
Bukan karena sesuatu yang istimewa.
Aku hanya ingin pulang.
Kadang manusia tidak membutuhkan alasan besar untuk kembali ke tempat yang membuatnya merasa tenang.
Cukup karena hati berkata: “Sudah waktunya.”
***
Perjalanan menuju kampung terasa berbeda. Jalan yang dulu terasa panjang sekarang terasa lebih pendek. Atau mungkin karena aku sudah berubah. Dulu aku melihat perjalanan sebagai sesuatu yang harus segera dilewati. Sekarang aku ingin menikmati setiap bagian.
Pohon yang dulu kulihat setiap hari.
Jembatan kecil.
Sawah.
Rumah-rumah tetangga.
Semuanya membawa kenangan.
Aku tersenyum sendiri.
Ternyata ingatan manusia seperti rumah juga.
Ia menyimpan banyak hal.
Dan kadang hanya butuh satu pemandangan untuk membuka pintunya.
Ketika sampai di depan rumah, aku berhenti.
Aku tidak langsung masuk.
Aku hanya berdiri.
Melihatnya.
Rumah itu masih ada.
Memang tidak sama persis seperti dulu.
Ada beberapa bagian yang berubah.
Ada kaca yang dulu dihina bisa masuk kerikil.
Ada cat yang diperbarui.
Ada sudut yang terlihat lebih rapi.
Tapi rasanya…tetap sama.
Aku tersenyum.
Karena sekarang aku mengerti.
Rumah bukan tentang mempertahankan semuanya agar tidak berubah. Rumah adalah tentang menjaga sesuatu yang penting agar tetap hidup.
Aku membuka pintu.
Krek…
Suara itu.
Aku langsung terdiam.
Suara yang pernah kudengar ribuan kali.
Tapi hari itu terasa seperti salam.
Seperti rumah berkata:
“Kamu kembali.”
Aku tertawa kecil.
“Masih berbunyi juga.”
Dari belakang terdengar suara ibu.
“Siapa lagi kalau bukan kamu?”
Aku menoleh.
Ibu berdiri di sana.
Masih dengan senyum yang sama.
Walaupun rambutnya sudah berubah.