Jakarta Selatan adalah sebuah labirin kaca dan baja yang dihuni oleh orang-orang yang sibuk mengejar bayang-bayang kesuksesan. Di lantai 22 gedung Signature Tower, Amala Kalya adalah ratunya. Sebagai Senior Project Coordinator di salah satu firma konsultan manajemen paling prestisius di kota ini, hidup Amala adalah definisi dari efisiensi yang elegan. Baginya, dunia adalah sebuah file Excel raksasa; jika semua sel terisi dengan data yang akurat dan rumus yang tepat, maka hasil akhir sudah pasti akan sesuai dengan proyeksi.
Setiap pagi, pukul 06.00 WIB, alarm di apartemen mewahnya berbunyi tepat waktu. Tidak ada drama bangun kesiangan, tidak ada sisa cucian yang menumpuk. Semuanya terprogram dengan cermat. Amala memulai harinya dengan secangkir latte tanpa gula, memeriksa kalender digitalnya yang penuh dengan jadwal rapat, conference call internasional, dan tinjauan spreadsheet proyek. Ia menyukai angka-angka itu. Angka tidak pernah berbohong, tidak pernah mengkhianati, dan tidak pernah berubah pikiran di tengah jalan. Jika kolom A ditambahkan ke kolom B, hasilnya selalu C. Sesederhana itu. Kehidupannya adalah simfoni keteraturan yang ia gubah sendiri.
Begitulah hidup Amala sebagai wanita karir yang mapan sebelum takdir merubah hidupnya 180 derajat. Entah karena sial memilih lelaki yang salah? Atau ia memang harus melewati takdir buruk sebelum menemukan kebahagian yang sesungguhnya?
Amala adalah tipe wanita yang tidak meninggalkan ruang bagi ketidakteraturan. Meja kerjanya selalu bersih dari tumpukan kertas, hanya ada satu monitor ultra-wide, buku catatan bersampul kulit hitam, dan sebuah pulpen logam yang ia beli sebagai hadiah untuk dirinya sendiri saat kenaikan jabatan tahun lalu. Rekan kerjanya sering bercanda bahwa Amala mungkin memiliki timer internal, karena ia selalu tepat waktu untuk setiap pertemuan, setiap deadline, bahkan setiap janji temu pribadi.
"Amala, rapat direksi dimajukan sepuluh menit. Kamu siap?" tanya seorang rekan kerjanya dengan nada panik.
Amala hanya tersenyum tipis, senyuman efisien yang ia gunakan untuk menunjukkan ketenangan. "Saya sudah menyesuaikan jadwal saya tiga menit setelah notifikasi rapat masuk ke sistem tadi pagi, David. Semua data sudah siap di folder utama. Kita bisa langsung mulai."
David hanya bisa menggelengkan kepala, terkesima sekaligus sedikit kesal dengan betapa tidak manusiawinya keteraturan Amala. Namun, itulah Amala Kalya. Ia adalah mesin yang bekerja tanpa celah. Ia memimpin rapat dengan otoritas yang membuat rekan-rekan timnya yang mayoritas laki-laki yang lebih tua darinya, tak berkutik.
Di balik baju zirah profesionalnya, Amala memiliki "variabel konstan" yang membuat hidupnya terasa utuh, Ardiatama.
Ardi adalah seorang pengacara korporat yang bekerja di gedung seberang. Mereka adalah power couple yang sering dibicarakan di kalangan eksklusif SCBD. Ardi cerdas, sopan, dan memiliki ambisi yang sejalan dengan Amala. Jika Amala adalah logikanya, maka Ardi adalah validasi emosionalnya.
Di meja kerja Amala, sebuah buket mawar putih sudah menanti dengan catatan kecil yang ditulis dengan tinta hitam yang rapi.