Pagi hari setelah insiden "Pintu Putar" tidak datang dengan sinar matahari yang cerah bagi Amala Kalya. Ia terbangun di dalam kamarnya yang sempit di sebuah indekos kelas menengah di kawasan Setiabudi. Ruangan ini adalah antitesis total dari apartemen mewahnya yang dulu selalu bersih dan wangi citrus. Di sini, di sudut ruangan yang pengap, ia bisa mencium aroma debu yang terjebak di balik lemari baju dan sisa cucian yang belum sempat ia bersihkan.
Amala menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Kepalanya berdenyut, bukan karena mabuk, melainkan karena sisa hantaman pintu kaca yang masih meninggalkan memar biru di tulang pipinya. Ia belum mandi sejak kemarin. Rambutnya, yang biasanya disanggul dengan teknik sleek bun yang sempurna, kini terurai berantakan, berminyak, dan menyatu dengan bantal yang sudah mulai menguning.
Di atas meja kecil yang penuh dengan tumpukan barang tidak terpakai, layar laptopnya, satu-satunya benda yang masih terlihat "bersih" di ruangan itu menampilkan dashboard surat pengunduran diri yang belum ia kirimkan. Ia sudah mengirimkan pesan singkat ke Pak Handoko: "Izin sakit, Pak. Sedang ada urusan keluarga mendesak." Sebuah kebohongan yang sangat tidak profesional. Amala Kalya tidak pernah tidak profesional. Ia adalah wanita yang memegang teguh integritas kerja. Namun, saat ini, ia merasa seluruh sistem sarafnya telah korslet.
"Amala, gila ya lo," gumamnya pada diri sendiri. Suaranya serak, seperti besi berkarat yang dipaksa beradu.
Ia kembali membuka ponsel. Puluhan notifikasi dari grup WhatsApp kantor masuk. Rupanya, berita tentang drama di lobi gedung kantor Ardi telah menyebar lebih cepat daripada virus ransomware. Ada pesan dari rekan tim yang berpura-pura bertanya "ada apa?", ada pesan dari pihak security kantor yang menanyakan tasnya yang tertinggal saat insiden itu, dan ada pesan dari Ardiatama yang sudah diblokir namun meninggalkan jejak di archive.
Amala melempar ponselnya ke kasur. Ia merasa seperti file yang terhapus secara permanen dari hard drive hidupnya. Tidak ada cadangan, tidak ada restore. Ia adalah data yang korup.
Tiba-tiba, perutnya berbunyi nyaring. Amala baru sadar kalau ia belum makan dari semalam. Ia membuka dompetnya. Di sana hanya tersisa satu lembar uang lima puluh ribu rupiah dan beberapa lembar uang sepuluh ribu. Ardiatama sering membayar makan siang mereka, dan Amala selama ini terlalu sibuk memanjakan dirinya dengan gaji yang ia hasilkan, sebuah investasi yang kini terbukti merupakan kerugian total. Ia tidak punya simpanan darurat yang cukup untuk bertahan hidup di Jakarta jika ia tidak punya gaji bulan depan. Realita menamparnya lebih keras daripada benturan lantai marmer lobi gedung kemarin.
"Oke, Amala. Action plan," bisiknya. Ia memaksakan diri bangkit dari kasur, berjalan gontai ke kamar mandi. Saat ia menatap cermin, ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Matanya bengkak, wajahnya pucat pasi, dan memar di pipinya terlihat semakin kontras. Ia menyalakan keran, membiarkan air dingin membasuh wajahnya. Saat air itu mengalir, ia teringat kata-kata Ardiatama dulu saat mereka sedang menikmati makan malam di sebuah restoran fine dining.
"Kamu itu terlalu kaku, Amala. Dunia ini nggak cuma soal angka. Kadang kamu harus sedikit 'kotor' untuk menang."
Sialan. Ternyata "kotor" yang dimaksud Ardiatama adalah berselingkuh dan menipu wanita yang sudah memberikan segalanya. Amala tertawa miris. Tawanya berubah menjadi isakan yang menyakitkan. Ia mencengkram pinggiran wastafel sampai buku jarinya memutih. Ia tidak boleh hancur karena laki-laki sampah itu. Ia adalah Amala Kalya, lulusan terbaik, wanita yang bisa mengatur proyek besar miliaran rupiah. Ia pasti bisa mengatur proyek hidupnya sendiri.