L`Etoile : Siasat Di Balik Pintu Dapur

Amila Fitriati Mardhatillah
Chapter #4

Selamat Datang di Neraka Kaca

Jarum jam di dinding ruang ganti karyawan baru saja melewati angka dua siang ketika Amala selesai mengancingkan kemeja hitam seragamnya. Ruangan berukuran tiga kali empat meter itu baunya ampun-ampunan, perpaduan antara detergen murah, parfum linoleum, dan kelembaban dari loker-loker besi yang catnya sudah banyak yang mengelupas. Ini adalah hari pertama Amala mengenakan seragam resmi L'Etoile sebagai waitress penuh, setelah dua hari sebelumnya cuma planga-plongo pakai kemeja putih polos selama masa orientasi yang singkat.

"Lo kebagian middle shift kan hari ini, Mal?" suara Tara memecah keheningan ruangan. Gadis itu lagi duduk di bangku kayu panjang sambil mengikat kuncir kuda rambutnya kencang-kencang, sebatang rokok yang belum dinyalakan terselip di telinganya.

"Iya, masuk jam dua, pulangnya jam sepuluh malam nanti," jawab Amala sambil merapikan apron hitam kecil yang melilit pinggangnya.

"Bagus deh. Jangan sampe kena closing shift dulu buat minggu pertama. Bisa rontok lutut lo," Tara terkekeh, bangkit berdiri lalu menepuk pundak Amala. "Inget ya, begitu melangkah keluar dari pintu ruang ganti ini, pasang muka tembok lo. Tamu di depan itu matanya kayak elang, rewelnya minta ampun. Dan orang-orang dapur... badannya aja manusia, tapi kalau udah rush hour, mulutnya berubah jadi kompor gas. Panas bangsat."

Amala mengangguk kecil. Di dunia korporat tempat ia bekerja dulu, tekanan mental biasanya datang dalam bentuk tenggat waktu spreadsheet atau email pasif-agresif dari manajer regional yang dikirim tengah malam. Namun di sini, di industri Food and Beverage, tekanan itu berbentuk fisik, nyata, dan instan. Waktu tidak lagi dihitung per jam, melainkan per detik sejak pesanan dicetak oleh mesin POS.

Ketika Amala melangkah masuk ke area dining room, suasana resto masih tergolong tenang. Cahaya matahari siang menembus kaca-kaca besar L'Etoile, memantul di atas permukaan meja kayu jati yang sudah dipoles minyak khusus hingga mengilat. Beberapa service morning shift sedang melakukan set-up terakhir untuk makan malam, melipat serbet kain menjadi bentuk mahkota yang presisi, menata pisau daging di sebelah kanan piring, dan memastikan tidak ada bekas sidik jari pada gelas-gelas kristal.

Di dekat meja kasir, Bramantya sedang berdiri tegak, berbicara dengan Indriana yang sibuk menghitung lembaran uang modal di laci kasir. Begitu melihat Amala, mata Bramantya menyipit, menilai penampilannya dari ujung rambut hingga ujung sepatu pantofelnya.

"Amala," panggil Bramantya, suaranya terdengar berwibawa namun ada nada meremehkan yang kentara. "Hari ini lo pegang station B. Meja 6 sampai meja 10. Siska bakal awasin lo dari jauh. Jangan bikin malu. Kemarin pas orientasi lo masih kagok bawa nampan besar. Kalau hari ini ada piring pecah, langsung potong dari jatah tips lo bulan depan. Paham?"

"Paham, Pak," jawab Amala datar, sengaja menekan egonya dalam-dalam. Di dalam kepalanya, ia mengingatkan diri sendiri mengapa ia ada di sini, untuk bertahan hidup, mengumpulkan uang, dan membangun kembali hidupnya yang hancur setelah pengkhianatan Ardi. Dia tidak boleh kalah oleh gertakan seorang supervisor resto.

Pukul lima sore, suasana resto mulai berubah. Briefing sore dipimpin langsung oleh Bu Raras di area tengah. Wanita itu mengenakan setelan blazer formal, rambutnya disanggul rapi tanpa ada satu helai pun yang lolos. Di sampingnya berdiri Chef Gunawan, sang Executive Chef yang memiliki reputasi sebagai diktator di dapur.

Lihat selengkapnya