L`Etoile : Siasat Di Balik Pintu Dapur

Amila Fitriati Mardhatillah
Chapter #5

Solidaritas Trotoar Belakang

Jarum jam di atas pintu keluar staf sudah menunjuk pukul sebelas lewat empat puluh lima menit malam ketika Amala akhirnya bisa melepas sepatu pantofel hitamnya. Kakinya terasa panas, kebas, dan berdenyut seperti habis dihantam palu godam. Sepuluh jam berdiri menahan komplain tamu, bolak-balik membawakan nampan berat, dan menahan sikut dari waitress senior benar-benar menguras sisa tenaga yang ia miliki. Begitu dia mengganti kemeja hitamnya dengan kaus oblong abu-abu yang longgar, aroma keringat, lemak panggangan, dan sisa cairan pembersih lantai yang menempel di baju kerjanya langsung menguar di ruang ganti yang pengap.

"Gila, betis gue rasanya kayak mau meletus, bangsat," gerutu Tara, melemparkan apronnya ke dalam loker besi dengan kasar hingga menimbulkan suara dentang yang nyaring dan menggema di ruangan. "Si Siska bener-bener anjing ya hari ini. Meja 9 yang rewelnya minta ampun malah dilempar ke gue pas dia pura-pura ke toilet. Pengen gue colok matanya pake garpu seafood rasanya, biar tahu rasa."

Amala hanya bisa bersandar di deretan loker kayu, menghela napas panjang sambil memijat pergelangan kakinya perlahan. "Udah lah, Tar. Yang penting closing malam ini kelar juga. Gue tadi hampir mati pas dibentak Chef Aby gara-gara saus di depan pass. Sumpah, muka gue rasanya kayak dilempar arang."

"Halah, si Aby mah emang mulutnya kayak comberan kalau lagi hectic," Tara melambaikan tangan dengan acuh, lalu mengambil sebungkus rokok dari dalam tasnya. "Ayo keluar, Mal. Ngopi dulu di belakang sebelum balik. Kalau langsung pulang, otak gue masih muter mikirin tiket."

Amala mengikuti langkah Tara keluar melalui pintu belakang besi yang berat. Begitu pintu terbuka, udara malam Jakarta yang lembap langsung menyergap kulit mereka. Gang sempit di belakang L'Etoile adalah dunia yang sama sekali berbeda dari kemewahan dining room di depan. Di sini, tidak ada lampu kristal, lantai marmer yang berkilau, atau wangi lilin aroma terapi yang menenangkan. Yang ada hanya dinding batako yang menghitam karena jelaga knalpot dapur, deretan tempat sampah besar berbau asam, dan aroma sisa makanan bercampur asap rokok yang pekat.

Beberapa meter dari pintu, selembar tikar plastik biru sudah digelar di atas trotoar semen yang somplak. Abang Starling dengan motornya yang penuh rentengan kopi sachet dan gerobak nasi goreng legendaris sudah mangkal di sana sejak satu jam lalu. Tempat ini adalah area gencatan senjata. Begitu seragam dilepas, pembatas antara anak kitchen yang sangar dan anak service yang harus selalu memasang senyum palsu langsung lebur tanpa sisa.

"Bang, kopi hitam satu. Gula dikit aja," ujar Amala, mendudukkan diri di pinggir trotoar dengan kaki diluruskan ke depan.

"Gue es teh manis, Bang. Yang manis banget, hidup gue hari ini udah pait soalnya," sahut Tara, langsung menyalakan sebatang rokok dengan pemantik gasnya. Dia mengembuskan asap tebal ke udara malam dengan wajah puas, seolah semua beban kerjanya ikut menguap bersama asap itu.

Di atas tikar, sudah ada Rio, salah satu line cook bagian grill, dan Doni, anak barista yang malam itu kebagian closingan. Wajah mereka berdua sama kusutnya, dengan lingkaran hitam di bawah mata yang mempertegas kelelahan mereka. Rio masih memakai celana checkerboard khas kokinya yang sudah dekil terkena cipratan minyak dan noda saus cokelat.

"Eh, pelayan baru," tegur Rio sambil menatap Amala, lalu tertawa kecil hingga deretan giginya terlihat. "Gimana hari pertama lo di line bawah tekanan? Selamat, lo udah resmi di-perjaka-in sama mulutnya si Aby tadi sore. Kedengeran sampe belakang tau nggak bentakannya. 'Goblok banget?!' Gila, kenceng banget."

Amala tersenyum kecut, menerima segelas kopi hitam panas dalam gelas plastik dari abang Starling. "Gue cuma salah ketik note saus doang, langsung dikatain goblok di depan pass."

Lihat selengkapnya