L`Etoile : Siasat Di Balik Pintu Dapur

Amila Fitriati Mardhatillah
Chapter #6

Di Balik Meja Kasir

Matahari baru saja bergeser ke arah barat ketika Amala menempelkan kartu absensinya pada mesin terminal di lorong belakang. Hari ini dia kebagian middle shift lagi. Datang jam dua siang, saat resto masih sepi dan hanya melayani beberapa tamu korporat yang memperpanjang makan siang mereka hingga waktu rapat kasual.

Suasana L'Etoile di jam-jam nanggung seperti ini biasanya diisi dengan sidework yang monoton. Anak-anak service sibuk melakukan polishing, mengelap ratusan gelas kristal dan garpu perak menggunakan air panas berkadar alkohol rendah agar tidak meninggalkan bercak air. Bunyi dentang halus kaca yang beradu dengan kain mikrofiber menjadi latar suara yang konstan di dining room.

Amala berdiri di dekat terminal POS (Point of Sale) utama di dekat meja kasir, mengelap permukaan kayu konter dengan kain setengah basah. Posisinya yang strategis ini membuatnya berada tepat di belakang Indriana yang sedang duduk di kursi tinggi kasir, menghitung lembaran uang tunai dari laci modal dengan ekspresi bosan.

"Ndr, meja 5 tadi pembayarannya aman?" suara Bramantya memecah keheningan. Supervisor itu berjalan mendekat dengan langkah santai, tangan kanannya memegang ballpoint yang diketuk-ketuk ke telapak tangan kirinya.

Indriana tidak langsung menjawab. Matanya melirik ke arah Amala yang masih sibuk mengelap konter dengan gerakan konstan. "Aman. Tamunya bayar cash, pas kok angkanya. Nggak pakai kembalian."

"Ya udah, void aja kayak biasa. Masukin ke alokasi complimentary tamu reguler atau alasan salah input menu," bisik Bramantya, suaranya sangat pelan, hampir tenggelam oleh desau pendingin ruangan. Tapi telinga Amala yang sudah terlatih di dunia korporat untuk menangkap detail kecil langsung menangkap kata kunci itu: Void.

Dalam sistem kasir dan akuntansi restoran, void adalah tombol sakral. Itu adalah fitur untuk menghapus transaksi pesanan yang salah ketik atau dibatalkan oleh tamu sebelum makanan diproduksi. Jika pesanan sudah dibayar tunai oleh tamu, lalu di dalam sistem transaksi tersebut di-void, maka uang tunai yang masuk ke laci kasir secara teori tidak akan tercatat dalam laporan pendapatan harian. Uang itu menguap dari sistem, tapi fisiknya ada di laci.

Amala tidak mengubah ritme tangannya. Dia tetap mengelap permukaan meja dengan tenang, matanya menatap lurus ke arah serat kayu, namun otaknya langsung bekerja cepat. Sebagai mantan pekerja kantoran yang akrab dengan laporan keuangan, dia tahu persis apa yang sedang terjadi di depannya. Ini bukan sekadar kesalahan input. Ini adalah celah manipulasi kas.

"Eh, pelayan baru," tegur Indriana tiba-tiba, suaranya ketus membuat Amala menoleh. "Lo kalau ngelap meja jangan di situ-situ mulu. Tuh, station lo di meja 7 sama 8 debunya masih tebel. Sono gih. Jangan malas-malasan lo, mentang-mentang resto lagi sepi."

"Baik, Mbak," jawab Amala datar. Dia mengambil botol sanitizer dan kain lapnya, lalu berjalan menuju station B tanpa membantah sedikit pun.

Di meja 7, Amala mulai mengelap kursi sambil terus berpikir. Di tempat kerja lamanya, tindakan memanipulasi sistem seperti itu bisa langsung berujung pada audit internal dan pemecatan tidak hormat. Tapi di sini, di L'Etoile, tampaknya Bramantya dan Indriana sudah melakukan hal ini seperti rutinitas minum kopi sore. Mereka sangat santai, sangat rapi, dan yang paling penting: mereka saling melindungi.

Lihat selengkapnya