Sabtu malam di L'Etoile selalu terasa seperti bom waktu yang siap meledak di tangan siapa saja. Sejak pintu depan dibuka pukul enam sore, arus tamu tidak berhenti mengalir. Lantai restoran penuh dengan kepulan aroma parfum mahal yang bercampur dengan wangi truffle oil dari arah dapur. Suara denting gelas kristal dan gemuruh obrolan manajer-manajer korporat berbaur menjadi satu simfoni yang bising. Bagi anak-anak service, ini adalah malam di mana mereka harus bergerak secepat kilat sambil mempertahankan senyum ramah di wajah, meski betis mereka rasanya seperti mau lepas dari mangkok sendi.
Di dalam dapur, atmosfernya tiga kali lebih jahanam. Suhu udara naik drastis akibat deretan kompor gas berkekuatan tinggi yang menyala serentak.
"Dua Ribeye meja 14! Satu medium rare, satu medium! Plating yang rapi, bangsat! Jangan sampai ada bekas saus belepotan di pinggir piring!" teriak Chef Gunawan, suaranya yang serak dan berat menggelegar di atas bunyi desis minyak panas. Pria paruh baya itu berdiri di tengah dapur dengan mata melotot, memantau setiap pergerakan line cook seperti komandan perang yang siap mengeksekusi prajuritnya yang teledor.
Amala baru saja menyelesaikan pesanan dari meja 6 ketika pintu depan terbuka dan Bramantya masuk ke lantai dengan wajah yang mendadak dipasang super ramah—sebuah ekspresi yang jarang sekali ia tunjukkan pada tamu biasa. Di belakang supervisor itu, berjalan seorang wanita muda dengan pakaian bermerek mencolok, kacamata hitam yang bertengger di atas kepala, dan sebuah ponsel yang terpasang pada gimbal penstabil video di tangannya.
"Nah, Mbak Vanya, silakan duduk di sebelah sini. Ini station terbaik kita dengan view langsung ke arah wine cellar," ujar Bramantya dengan nada manis yang membuat Amala mual.
Amala melirik ke arah Tara yang sedang berdiri di dekat service station. Tara langsung mendekat dan berbisik dengan kata-kata kasar yang ditahan di ujung lidah. "Anjing, itu si Vanya. Influencer tiktok yang terkenalnya karena hobi nyari kesalahan resto demi dapet makan gratisan. Kalau makanan dia telat dua menit aja, besok video review jeleknya langsung fyp. Sialan, kenapa dia harus duduk di station kita sih, Mal?"
"Tenang, Tar. Yang penting kita jalanin sesuai SOP," jawab Amala pendek, mencoba tetap tenang meski dadanya mulai berdegup kencang.
Bramantya tiba-tiba menoleh dan melambaikan tangannya ke arah Amala. "Amala! Sini lo. Handle meja 11. Ini tamu VIP kita malam ini. Jaga mulut lo, jangan sampai salah input kayak kemarin, atau lo tahu sendiri akibatnya."
Amala menarik napas dalam-dalam, mengambil tablet pemesanannya, lalu melangkah menuju meja 11 dengan senyum profesional yang terlatih. "Selamat malam, Mbak Vanya. Selamat datang di L'Etoile. Ada yang bisa saya bantu untuk pesanannya malam ini?"
Wanita bernama Vanya itu tidak langsung menatap Amala. Dia sibuk mengarahkan kamera ponselnya ke wajahnya sendiri, berbicara dengan nada manja yang dibuat-buat di depan lensa. "Halo guys, malam ini aku lagi di L'Etoile, resto fine dining yang lagi hits banget di Jakarta Selatan. Kita lihat ya, apakah pelayanannya sebanding dengan harganya yang selangit."
Setelah mematikan rekaman sementaranya, Vanya menatap Amala dengan pandangan menilai yang meremehkan. "Gue mau pesen Duck Confit yang ada di menu spesial malam ini. Tapi, gue nggak mau pakai saus jeruknya. Ganti pakai saus truffle mushroom dari menu steak. Terus, bebeknya gue minta di-filet dulu sebelum disajiin, jangan ada tulangnya sama sekali. Dan satu lagi, sayur pendampingnya ganti asparagus muda, jangan brokolini. Paham?"