L`Etoile : Siasat Di Balik Pintu Dapur

Amila Fitriati Mardhatillah
Chapter #8

Staff Meal Dadakan

Bab 8: Staff Meal Dadakan

Rush hour baru saja usar, meninggalkan aroma sisa alkohol, wangi parfum mahal yang menguap, dan udara dingin AC yang terasa kering. Di area depan, anak-anak service bergerak seperti zombi, wajah-wajah mereka kusut, senyum profesional yang tadi dipasang sejak sore kini luntur total digantikan rahang yang mengeras menahan lelah.

Amala menyandarkan punggungnya di pilar dekat wine cellar. Kedua telapak kakinya terasa panas berdenyut, seolah-olah kaus kaki yang ia kenakan melekat pada kulitnya yang lecet. 

Perutnya berbunyi nyaring, mengeluarkan suara perih yang melilit lambung. Sejak siang sebelum briefing dimulai, dia belum sempat memasukkan apa pun ke dalam mulutnya selain segelas kopi hitam Starling yang rasanya sudah menguap entah ke mana.

"Mal, bantuin gue bawa ember es kosong ke belakang dong. Tangan gue udah gemeteran, anjir," keluh Tara yang berjalan tertatih-tatih sambil menyeret wadah plastik besar berisi lelehan es batu dari bar. Wajahnya yang biasa jenaka kini tampak kuyu, dengan maskara yang sedikit luntur di ujung kelopak matanya.

"Sini, Tar. Biar gue yang bawa," Amala mengambil alih gagang ember tersebut. Beratnya lumayan menekan otot lengannya yang sudah pegal, namun dia memaksakan diri berjalan menuju area cuci piring di bagian belakang resto.

Begitu pintu koboi dapur didorong, hawa panas langsung menyergap wajahnya. Berbeda dengan area depan yang sudah sunyi, dapur masih sibuk dengan aktivitas closingan

Para steward sedang berkejaran dengan waktu, membilas ratusan piring keramik, wajan tembaga, dan panci-panci besar menggunakan semprotan air panas bertekanan tinggi. Bunyi prang-preng-prong logam yang beradu dan uap putih dari mesin dishwasher raksasa membuat suasana dapur terasa seperti pabrik besi di tengah malam.

Amala meletakkan ember es di dekat area steward, lalu berjalan menuju konter stainless steel utama untuk mengembalikan beberapa nampan bersih. 

Di ujung line memasak, hanya tersisa Abyakta, Sous Chef itu sedang berdiri sendirian di depan grill station yang apinya sudah dipadamkan. Rambutnya yang sedikit berantakan mencuat dari balik topi koki hitamnya yang agak miring. 

Aby sedang memegang pisau pemotong daging, membersihkan sisa-sisa lemak yang menempel di atas talenan kayu besar dengan gerakan yang repetitif dan konstan.

Amala hendak berbalik untuk kembali ke lantai depan ketika suara berat dan serak Aby menghentikan langkahnya.

"Oi, waitress baru. Sini lo."

Amala menoleh, menatap Aby yang bahkan tidak melihat ke arahnya, matanya masih fokus pada ujung pisaunya. "Iya, Chef? Ada yang bisa saya bantu?"

"Sini. Jangan planga-plongo di situ kayak orang ilang," perintah Aby ketus.

Lihat selengkapnya