"Nih, anjing, lo liat sendiri," gerutu Tara sambil melemparkan ponselnya ke arah pangkuan Amala yang baru saja duduk di bangku kayu panjang.
"Si Bramantya baru aja nge-share rincian potongan breakage dan shortage kasir di grup utama. Potongan tips kita bulan ini hampir empat ratus ribu per kepala. Katanya buat ganti rugi piring kristal sama gelas wine yang pecah minggu lalu."
Restoran baru saja tutup satu jam yang lalu, di dalam ruang ganti yang pengap, Tara sedang duduk selonjoran di atas lantai cor dengan punggung menyandar ke loker besi nomor 12 sambil marah-marah.
Di sudut lain, ada Bobi, pelayan senior yang sedang melepas dasi kupu-kupunya dengan gerakan santai. Waitress senior itu memiliki tubuh yang tinggi tegap dan wajah yang di atas rata-rata, bisa dibilang sebelas dua belas dengan Abyakta dalam urusan ketampanan fisik.
Bedanya cuma satu, jika Aby selalu memasang muka garang seperti mau ngajak berantem, Bobi jauh lebih ramah, tenang, dan punya selera humor yang agak sakit.
Amala mengambil ponsel Tara, membaca deretan angka yang diketik dengan format kaku oleh Bramantya di grup resmi L'Etoile Staff. Matanya menyipit saat melihat kolom "Biaya Operasional Lantai". Sebagai orang yang bertahun-tahun berkutat dengan laporan keuangan sebelum terdampar di sini, Amala langsung mencium bau amis.
"Empat ratus ribu per orang? Staf service di sini ada lima belas orang. Totalnya enam juta. Harga gelas wine kristal kita emang mahal, tapi nggak nyampe enam juta buat tiga biji yang pecah," analisis Amala, suaranya pelan tapi tegas.
Bobi yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin kecil loker langsung tertawa renyah, suara tawanya terdengar rendah namun empuk.
"Welcome to dunia F&B! Si Bramantya kalau bikin laporan emang pake rumus matematika gaib. Piring pecah satu, ditulisnya satu lusin. Lagian yang mecahin kan si Siska kemarin pas buru-buru. Berhubung Siska itu Kapten Lantai kesayangannya dia dan satu tim sama Indriana, ya potongannya dibagi rata ke kita semua. Adil kan? Adil buat dompet mereka maksudnya."
"Tapi ini kan potongan sepihak, Mas Bob! Masa kita diem aja sih?" protes Tara, sambil memainkan sebatang rokok di jarinya, nggak sabar buat segera nyebat.
"Gue kerja jungkir balik melayani tamu bangsawan di depan, kaki sampe lecet-lecet, pas gajian malah disunat kayak setan gini."