Jarum jam di atas pintu keluar staf sudah menunjuk pukul sebelas lewat lima puluh menit malam ketika pintu besi belakang L'Etoile berdentang menutup. Udara malam Jakarta yang lembap langsung menyergap kulit Amala yang masih terbungkus kaus oblong abu-abu sisa kerja.
Di gang sempit belakang resto, selembar tikar plastik biru besar sudah digelar di atas trotoar semen yang somplak. Malam ini formasi penunggu trotoar tumben-tumbenan lengkap setelah mereka semua diserang badai closingan. Tara sudah selonjoran dengan wajah kusut sambil menghisap rokoknya dalam-dalam. Di sebelahnya, Bobi sedang membuka kancing atas kemejanya dengan santai sambil memegang gelas es teh manis.
Sementara itu, 'tiga sekawan' dapur juga lengkap, Rio si line cook yang celananya masih penuh noda saus, Doni si barista yang sibuk membagikan korek gas, dan Gani, si commis chef yang tangannya malam ini dibalut plester luka baru. Gani ini sudah setahun kerja di L'Etoile, tapi bawaannya memang ceroboh dari lahir, kontras dengan Rio yang cekatan dan Doni yang selalu tenang di depan mesin kopi.
"Sumpah ya, si Gani ini titisan setan kayaknya," celetuk Rio sambil menyulut rokoknya, memicu tawa dari Doni. "Masa tadi pas peak hour dia mau numpahin satu panci kaldu sapi ke lantai? Untung pantat wajannya ketahan sikut gue, bangsat. Kalau nggak, kaki kita berdua udah mateng disiram kuah."
Gani meringis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kan gue nggak sengaja, Bang Rio. Tangan gue licin kena butter. Lagian kuping gue udah mau copot dibentak Chef Aby pas insiden itu, jangan ditambahin lagi napa. Mana tadi siang si Siska kerjanya ampas banget lagi, salah catat meja terus malah komplain ke dapur."
"Halah, si Siska mah emang gak becus, modal muka dua doang depan Pak Bramantya," timpal Tara ketus, mengembuskan asap rokoknya dengan dongkol. "Tadi siang dia numpahin red wine di meja 7, terus yang disuruh bersihin siapa? Gue, bangsat. Mana gue lagi bawa nampan isi piring panas. Pengen gue jejelin botol wine-nya ke mulut dia rasanya."
Bobi tertawa lepas, suara tawa renyahnya memecah ketegangan malam. "Udah, Tar, bawa santai. Hidup di resto mah emang isinya manusia-manusia ajaib. Tahu sendiri kan, potongan tips empat ratus ribu kemarin aja kita cuma bisa elus dada. Mending lo dengerin penderitaan si Doni nih."
Doni mendengus, membetulkan letak topinya. "Jangan ngeledek lo, Bob. Tadi siang ada tamu cewek dateng, mesen latte tapi minta susunya diganti oatmilk, gulanya diganti stevia, temperaturnya harus pas enam puluh derajat, terus minta hiasannya gambar muka kucingpphlowe,I~’''~I,weAnggora. Dikira gue seniman lukis apa, bangsat. Pas gue sajiin, dia rese banget bilang mukanya lebih mirip anjing herder, kan anjing."
Tongkrongan itu meledak oleh tawa kasar anak-anak resto. Gani bahkan sampai tersedak es teh manisnya sendiri. Di sela-sela tawa itu, mereka mulai mengobrol santai tentang kehidupan pribadi masing-masing yang jarang dibahas saat operasional harian yang gila.
"Gue mah bertahan di sini cuma demi bayar cicilan motor yang bentar lagi lunas, asli," kata Rio sambil rebahan di tikar. "Kalau nggak, udah lama gue lempar celemek depan muka Chef Gunawan."
"Kalau gue mah demi modal nikah, Mas," timpal Gani sambil cengengesan. "Pacar gue minta resepsinya di gedung, makanya gue harus tahan-tahanin meskipun dicaci maki tiap hari di dapur."