L`Etoile : Siasat Di Balik Pintu Dapur

Amila Fitriati Mardhatillah
Chapter #11

Tradisi Tenda Seafood

Weekend rush jahanam yang menguras sisa-sisa kewarasan para staf, baru saja berlalu, menyisakan target triwulan restoran yang berhasil ditembus dengan angka yang sangat memuaskan. 

Sebagai Manajer Restoran yang tahu kapan harus memeras tenaga anak buahnya dan kapan harus memberi mereka napas, Bu Raras memutuskan untuk menjalankan tradisi staff meal besar-besaran di luar resto, dibiayai penuh oleh kas operasional atas izin kantor pusat.

***

Pukul dua belas tengah malam lewat sedikit, suasana di sebuah restoran seafood tenda 24 jam di daerah Fatmawati tampak sangat kontras dengan kemewahan lantai L'Etoile.

Tiga meja kayu panjang disatukan di bawah tenda terpal biru besar yang bergoyang pelan ditiup angin malam Jakarta yang pengap. 

Aroma kepiting saus padang, kerang dara rebus yang mengepul, dan ikan gurame bakar berukuran jumbo memenuhi udara, bersaing dengan asap knalpot dari jalan raya yang mulai sepi. Beberapa krat bir dingin mulai dibuka dengan bunyi plek-plek-plek yang beruntun.

"Malam ini, gue nggak mau denger ada yang ngomongin saus pecah atau pelayan salah anter meja ya! Semua makan, semua minum! Duit kantor pusat ini, abisin!" seru Chef Gunawan dengan suara seraknya, memicu sorak-sorai dari anak-anak dapur dan lantai.

Tara duduk di sebelah Amala, wajahnya sudah memerah karena baru saja menghabiskan gelas bir keduanya dalam waktu singkat. Dia tertawa terbahak-bahak bersama Rio yang sedang mempraktekkan gaya Chef Gunawan saat mengamuk kemarin malam. Di sebelah Rio, ada Doni dan Gani.

"Gila, lo tahu nggak, Mal?" Tara menyenggol bahu Amala sambil menunjuk Gani yang sedang berusaha membuka botol bir menggunakan sendok tapi malah meleset dan mengenai jarinya sendiri. 

"Si Gani tadi sore hampir ngebakar alisnya sendiri gara-gara nyalain salamander oven kepenuhan gas, bangsat! Si Aby langsung ngamuk sekampung."

Gani yang mendengar itu langsung mendengus sambil meringis kesakitan memegangi jempolnya. "Kan gue nggak sengaja, Tara. Tangan gue licin kena butter. Lagian kuping gue udah mau copot dibentak Chef Aby."

Rio dan Doni terbahak-bahak menepuk punggung Gani yang malang. Di sudut meja yang lain, Bobi sedang asyik membagikan potongan ikan bakar dengan gerakan santai. Bobi melemparkan lelucon receh yang membuat anak-anak tertawa terpingkal-pingkal.

Sementara itu, di ujung meja yang berbeda, Bramantya dan Indriana duduk berdampingan dengan Siska, sang Captain Floor yang merupakan kaki tangan mereka. Mereka bertiga tampak membuat kelompok eksklusif sendiri, sesekali berbisik sambil melirik ke arah staf bawah dengan pandangan meremehkan.

Bramantya tampak sengaja tertawa keras setiap kali Bu Raras menoleh ke arahnya, mencoba menunjukkan betapa setianya dia pada sang manajer restoran.

Amala memilih tetap tenang, menikmati udang bakar madu di piringnya. Obrolan trotoar semalam masih berputar jelas di kepalanya. Amala tidak tahu apakah sang Sous Chef bakal mengabaikannya atau diam-diam memikirkan tawaran itu.

Lihat selengkapnya