Selasa siang di L'Etoile terasa seperti berjalan di atas hamparan pecahan kaca yang siap menusuk sol sepatu kapan saja. Di dalam dining room, ketegangan tidak datang dari suhu udara, melainkan dari deretan meja station B yang mendadak dihantam gelombang tamu lunch shift tanpa jeda.
Amala bergerak cepat, tangannya memegang nampan kayu besar berisi dua porsi Fettuccine Carbonara panas. Langkah kakinya yang dibalut pantofel hitam harus stabil, melewati pilar-pilar besar resto sambil matanya tetap waspada memantau sekeliling.
Di sudut lantai dekat terminal POS, Siska berdiri dengan sambil mengobrol dengan Indriana. Sesekali ia hanya meneriaki waitress lain jika ada komplain atau pesanan yang menumpuk, menggunakan privilege nya sebagai captain floor. Siska tidak mau bersusah payah menghadapi gempuran lunch time yang cukup menggila siang ini.
"Amala! Tara! Itu meja 8 minumannya belum keluar juga dari tadi! Lo pada kerjanya gimana sih? Lelet banget!" teriak Siska, suaranya sengaja dikencangkan agar terdengar sampai ke meja supervisor tempat Bramantya sedang meninjau dokumen harian.
Tara yang baru saja keluar dari arah bar dengan napas terengah-engah langsung menghentakkan nampannya di atas service station. Wajahnya merah padam, bukan cuma karena lelah, tapi menahan dongkol yang sudah sampai ke ubun-ubun.
"Gila ya si Siska babi itu," umpat Tara dengan suara mendesis yang tajam ke arah Amala. "Dia yang dari tadi megang reservasi meja 8, dia yang telat masukin pesanan minumannya ke sistem bar gara-gara keasikan ngegosip sama Indriana. Pas tamu nanya, dia malah ngelempar salahnya ke kita di depan Pak Bram. Pengen gue siram pake air lemon matanya, biar tahu rasa!"
"Tahan, Tar. Jangan kepancing," bisik Amala tenang, mencoba menenangkan sahabatnya meskipun di dalam hatinya sendiri, kalkulasi logisnya sudah mencatat ketidakadilan ini dengan sangat rapi. "Kita selesain dulu lunch ini. Jangan kasih dia celah buat bikin laporan tertulis ke Pak Bram."
Namun, Siska tampaknya tidak berniat membiarkan mereka bernapas lega. Ia menggunakan strategi yang sangat klise namun mematikan di industri F&B, menumpuk order ticket di satu pelayan, memperlambat inputnya ke sistem, lalu membiarkan pelayan tersebut kelabakan di depan tamu saat makanan datang terlambat.
Pukul satu lebih empat puluh lima menit, peak hour mencapai puncaknya. Mesin POS di kasir berbunyi krik-krik-krik tanpa henti, mengeluarkan gulungan kertas tiket pesanan yang harus segera diproduksi dapur. Siska berjalan mendekati Amala yang baru saja selesai membersihkan meja 6.
"Amala, lo pegang tambahan meja 12 sama 14 di sudut sana. Tamunya rewel, minta pelayanan cepat," perintah Siska dengan nada memerintah yang dingin. "Dan inget, jangan sampai salah ketik kode menu lagi kayak kemarin. Gue nggak mau dapur ngamuk gara-gara lo bego."
Sebelum Amala sempat menjawab, Siska sudah berbalik dan berjalan menuju meja kasir, memberikan senyum manis pada Indriana seolah-olah dia baru saja menyelesaikan tugas manajerial yang agung.