Sebuah coffee shop bernuansa industrial minimalis yang terletak agak tersembunyi di dalam gang perumahan menjadi tempat yang dipilih Abyakta untuk bertemu dengan Amala. Beruntung, hari libur mereka sama-sama di hari Rabu, sehingga mereka bisa membuat skenario lanjutan rencana mereka.
Amala duduk di area indoor sudut ruangan, mengenakan kemeja kasual garis-garis longgar dan celana jins, penampilan yang sangat berbeda dari apron hitam kaku yang biasa ia kenakan di lantai L'Etoile. Di hadapannya, secangkir iced white sudah mencair setengahnya.
Pintu kaca kafe berbunyi dentang pelan saat didorong dari luar. Sosok tegap Abyakta melangkah masuk. Tanpa baju koki dekil atau handuk kecil di leher, Aby kelihatan seperti pria urban biasa dengan kaos maroon polos, jins gelap, dan jaket denim pudar favoritnya yang kali ini hanya disampirkan di pundak.
Rambutnya yang biasa tertutup topi koki tampak sedikit berantakan alami, memberikan kesan kasual namun tetap tegas.
Aby menyapu pandangannya ke seluruh ruangan sebelum melangkah mantap menuju meja Amala. Dia menarik kursi besi di hadapan perempuan itu dengan bunyi derit halus.
"Lama lo nunggu?" tanya Aby, suaranya berat dan dalam, kehilangan sebagian besar nada bentakan khas dapurnya.
"Enggak juga, baru lima belas menit. Nih, gue udah pesenin kopi hitam buat lo," Amala menggeser secangkir long black hangat yang baru saja diantarkan barista ke meja mereka.
Aby mendengus pelan, meraih cangkir itu lalu menyesapnya perlahan. "Gila, penat banget kepala gue kelar weekend kemarin. Baru ketemu kasur jam tiga pagi tiap hari."
"Makanya gue ajakin ketemu sore begini, biar otak lo agak segeran dikit. Eh, coffee shop pilihan lo oke juga, By." sahut Amala sambil tersenyum dan melihat sekeliling. "Gimana insiden 'perang tiket' kemarin siang sama Siska? Dapur aman?"
Wajah Abyakta seketika mengeras mengingat kelakuan Kapten Lantai muka dua itu. "Aman ndasmu. Si Siska babi itu sengaja banget nahan tiket lo biar timing panggangan steak gue berantakan. Kalau kemarin lo gak langsung ngomong jujur di depan pass, udah gue maki-maki lo semaleman. Tapi dari situ gue sadar, mereka udah mulai gerak defensif. Mereka tahu lo bukan pelayan baru yang bisa disetir."
Amala mengangguk, ekspresinya berubah serius. Dia membuka tas jinjingnya, mengeluarkan sebuah buku catatan kecil bergaris, lalu membukanya di atas meja. Di dalamnya, tertera tabel-tabel manual yang ditulis dengan pulpen hitam yang sangat rapi, gaya khas seorang mantan analis korporat.