Pukul sebelas lewat empat puluh lima menit, setelah memastikan Bu Raras masuk ke dalam mobilnya dan melaju membelah jalanan kota yang mulai lengang, trotoar belakang restoran kembali berubah fungsi. Selembar tikar plastik biru yang tepiannya sudah somplak digelar oleh Rio di atas trotoar semen.
Formasi malam ini bukan lagi sekadar tongkrongan melepas penat dengan sisa kopi sasetan. Suasananya berbeda. Ada ketegangan tipis yang mengambang di bawah temaram lampu jalanan yang berkedip kekuningan.
Tara duduk bersila, jemarinya memutar-mutar korek gas dengan gelisah. Di sebelahnya, Bobi menyandarkan tubuh tingginya yang tegap pada dinding pembatas bangunan, melipat tangan di dada dengan ekspresi yang tumben serius.
Sementara itu, Doni si barista sibuk menata botol teh manis dingin gelas plastik kopi di tengah tikar, didampingi Gani yang malam ini tampak merapatkan jaket jeansnya, sesekali melirik pintu besi restoran seolah takut hantu Siska tiba-tiba muncul dari sana. Rio menghisaprokoknya yang sudah pendek dan mematikannya.
"Gue sengaja minta lo semua jangan langsung balik malam ini," Amala membuka suara, memecah kesunyian. Dia duduk di sudut tikar, membuka buku catatan kecil bergaris yang sore kemarin dia diskusikan bersama Abyakta.
"Soal potongan tips kemarin lagi, Mal?" tanya Rio sambil menyulut rokoknya. "Kalau cuma buat misuh-misuh, di grup WhatsApp juga udah penuh makian, Mal."
"Nggak, Yo. Ini bukan cuma soal misuh-misuh," Amala menatap Rio, lalu beralih menatap seluruh personil di atas tikar satu per satu. "Ini soal gimana caranya kita ngambil balik apa yang jadi hak kita, sekaligus ngebersihin resto ini dari orang-orang kayak Bramantya, Indriana, dan Siska."
Gani yang sedang memegang botol teh manis langsung tersedak, batuk-batuk kecil sampai mukanya memerah. "Gila lo, Mbak Amala. Mau kudeta? Taruhan kita dipecat tidak hormat lho. Nyari kerjaan F&B di Jakarta sekarang susah parah, apalagi kalau udah di-blacklist."
"Kalau lo gerak sendirian dan pake cara tolol, ya pasti dipecat, Gan," suara berat dan serak dari arah sudut gerobak nasi goreng memotong kalimat Gani.
Sosok Abyakta melangkah masuk ke area temaram lampu jalan. Kehadiran sang Sous Chef di atas tikar biru malam itu seketika membuat atmosfer menjadi sangat absolut. Anak-anak dapur, Rio, Doni, dan Gani otomatis menegakkan posisi duduk mereka.
Mereka sudah biasa melihat Abyakta mengamuk di dapur, tapi melihat pria itu nimbrung di tongkrongan adalah pemandangan yang belum pernah terjadi. Paling banter, Abyakta hanya merokok dengan tenang di dekat gerobak nasi goreng.
Aby tidak duduk. Dia tetap berdiri bersandar di tiang listrik, menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu menunjuk buku catatan Amala dengan dagunya. "Kasih tahu mereka polanya, Mal."
Amala mengangguk, lalu membeberkan cetak biru hasil analisisnya. "Selama ini, kita semua diperas lewat sistem yang sengaja dirusak. Indriana nge-void transaksi tunai dari tamu reguler setiap malam Minggu setelah weekend rush.”
“Duit fisiknya masuk ke dompet mereka, sementara selisih bahan baku di dapur ditutup-tutupi sama Bramantya pake alasan 'rusak atau busuk' di laporan yang dia serahkan ke Bu Raras setiap Senin pagi. Potongan tips empat ratus ribu kemarin? Itu bukan buat ganti piring pecah. Itu buat nutupin selisih pembukuan kasir lokal mereka yang sesekali meleset dari target harian."