Puncak lunch rush hour di L'Etoile selalu terasa sekejam mesin penggiling daging. Lantai restoran dipenuhi desau obrolan para eksekutif muda dan aroma tajam white truffle oil yang terbawa setiap kali pintu koboi dapur terbuka.
Di sudut station A, Amala bergerak seperti bayangan dengan nampan yang terisi beberapa gelas minuman dan sepiring steak well done yang harus segera disajikan. Namun, matanya tidak pernah benar-benar lepas dari pergerakan di meja kasir. Di sana, Indriana sedang mengetik sesuatu di layar POS dengan malas, sementara Siska berdiri di sampingnya sambil mengunyah permen karet dengan gaya angkuh yang kentara.
"Amala! Sini lo!"
Suara lengkingan Siska memotong kebisingan lantai, membuat dua orang tamu di meja 5 sempat menoleh dengan dahi berkerut. Amala menurunkan nampan kosongnya di service station, lalu melangkah mendekati sang Captain Floor dengan ritme langkah yang tetap terjaga.
"Iya, Mbak Siska? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Amala, suaranya dipasang seramah mungkin sesuai standar SOP, meski kalkulasi logis di kepalanya sudah bersiap mencatat menu masalah apa lagi yang akan dilemparkan wanita ini.
Siska menyodorkan sebuah slip tiket orderan fisik yang sudah agak lecek ke dada Amala. "Lo handle Meja 4 di area private section. Tamunya komplain berat. Katanya Ribeye steak yang mereka pesen teksturnya keras kayak sendal jepit, padahal mintanya medium rare. Buruan lo urus ke dapur, ganti baru atau gimana serah lo. Pokoknya jangan sampe tuh tamu korporat teriak-teriak di depan Pak Bramantya."
Amala menerima tiket itu, matanya langsung mendeteksi kode pelayan di pojok kanan bawah kertas: SK. Itu kode milik Siska. Berarti Meja 4 adalah tanggung jawab Siska sejak awal.
"Maaf, Mbak Siska, tapi dari kode tiketnya, ini kan meja yang Mbak Siska handle dari jam dua belas tadi?" Amala mencoba mengonfirmasi, suaranya tetap datar tanpa nada menuduh.
Siska langsung melotot, rahangnya bergerak cepat mengunyah permen karet. "Gue kan Kapten Lantai, bego! Tugas gue muter, bukan jagain satu meja doang kayak pelayan serabutan! Sekarang gue lagi sibuk nyocokin data reservasi VIP buat nanti malam bareng Indriana. Lo tinggal bawa tuh piring ke dapur apa susahnya sih? Jangan banyak bacot deh, anak baru tahu diri dikit!"
Di balik meja kasir, Indriana hanya melirik sekilas dari balik kacamata frame tebalnya, lalu tersenyum geli mendengar bentakan Siska. Amala tidak membalas lagi. Berdebat dengan Siska di dekat meja kasir hanya akan membuang waktu dan merusak fokus tim gerilya mereka yang baru saja dibentuk semalam.
Amala membalikkan badannya, mengambil piring steak bermasalah dari Meja 4 yang ditinggalkan di atas konter pembantu, lalu berjalan cepat menuju pintu koboi dapur.