L (leave) I A N A

Tianaqila
Chapter #13

12

6 bulan sebelumnya....

Dua pengemudi beradu kelihaian. Penonton bersorak. Emosi memuncak. Kemenangan di depan mata bagi siapa saja yang mengendalikan kemudi lebih cepat. Sedikit lagi, setelah melewati tebing terjal, titik finish akan ditemui. Namun, iblis menguasai hati. Ide gila tercetus demi menyudahi peperangan walau ada pengorbanan.

"Bro, kurangi kecepatan Lo! Bahaya!" Sebuah suara memperingati sang pengemudi dari balik ear monitor.

"Berapa meter lagi sampai ke finish?"

Terdengar suara gumaman di seberang telepon menghitung jarak tempuh. "Sekitar lima ratus meter lagi. Setelah belokan kedua, Lo sudah sampai finish," katanya menganalisis.

Sang pengemudi mengangguk, "Oke, thanks." Lalu, jari telunjuknya menekan ikon mengakhiri panggilan. Di depan sana, mobil merah mempertahankan kecepatan dan memimpin beberapa meter. Dia sudah memperkirakan apa yang akan dilakukan, juga berbagai risiko terburuk sekalipun. Namun, baginya ini kesempatan terakhir untuk menang melawan pengemudi mobil merah di depannya. Satu kesempatan atau rahasianya terbongkar.

Mobil hitam meningkatkan kecepatan. Saat berhasil mendahului lawan, ban berdecit, rem ditarik. Mobil di belakang tak kuasa menahan keterkejutan, tidak ada pilihan lain kecuali membanting stir ke arah lain meskipun jurang terjal sekalipun. Si pengemudi mobil merah mengambil risiko menghindari tabrakan.

Semua mata membelalak tak percaya. Umpatan keluar dari mulut mereka bersamaan dengan bunyi dentuman keras yang mengantarkan mobil merah lompat ke jurang.

Booom... Brakkk...

Keheningan tercipta diantara sorak yang bergemuruh.

Sepasang mata dari lelaki berjaket putih yang sejak tadi mengamati dalam kecemasan, hendak melangkah maju melihat keadaan. Sayang, tubuhnya dicegat oleh tiga lelaki lain yang memaksanya untuk mundur.

"Mobil merah jatuh ke jurang!" Seorang lelaki lain memberitahu temannya yang mencegat lelaki berjaket putih.

Mendengar kabar tersebut, suara lelaki berjaket putih pun meneriakkan nama, "ALAN!!!" memanggil nama pengemudi mobil merah.

***

Liana berjalan pelan di sepanjang lorong kelas, pikirannya melayang pada kejadian tadi malam. Berbagai kemungkinan muncul dalam kepala Liana. Mungkinkah dia memiliki dua kepribadian berbeda, atau bisa jadi kepalanya habis terbentur lalu hilang ingatan. Dia meyakini kemungkinan pertama alasannya.

Seorang siswi dengan badge kelas XII mendekati Liana, menepuk bahunya. "Lia!"

Liana terperanjat, "Kak Adel?" Serunya menyebut nama si pemanggil. "Astaga, kak, aku kira siapa."

"Eh sorry kalau gue ngagetin. Gue cuma mau kasih tau hari ini ada les tambahan kimia. Kebetulan tadi pagi Rhino chat gue buat ngajak elo." Adel memberitahu, seraya berlalu pergi.

Liana mengangguk paham, "Terimakasih infonya, kak Adel."

"Sama-sama. Jangan lupa nanti jam tiga sore di lab kimia." Adel pergi lebih dulu menuju kelasnya, menyisakan Liana yang segera mengambil ponsel dan mengetik pesan.

'Terimakasih sudah diingatkan, kak Rhino...' dan diakhiri dengan ikon senyum jengkel.

---

Liana menjalani hari seperti biasa. Setelah pelajaran sekolah usai, dia segera beranjak menuju lab kimia. Mungkin, menjalani saran Rhino dan menjadi siswi yang rajin belajar bisa mengurangi dosanya agar tidak terjerumus ke neraka. Di sisa 54 hari hidup Liana, ia berusaha menjalani hidup sebaik mungkin.

Lihat selengkapnya