LA DI DA THE ALPHA 8A

Xielna
Chapter #1

Bab 1.

3 Maret 2035

Bagi dunia, Ravyna Clamentyn hanyalah noktah kecil yang tak terlihat. Semasa sekolah, ia adalah gadis yang tenggelam dalam kerumunan; biasa saja, tidak menonjol, dan cenderung diabaikan.

Setelah lulus SMA di usia delapan belas tahun, Ravyna tidak mengejar mimpi ke bangku kuliah. Realitas hidup memaksa gadis itu mengubur ambisinya demi membantu ekonomi keluarga yang serba kekurangan. Kini, di usianya yang kedua puluh, ia telah menghabiskan dua tahun sebagai pramuniaga di toko pakaian milik Bibi Melinda di jantung kota Cianjur.

Bibi Melinda adalah sosok wanita paruh baya yang tegar. Sebagai janda tanpa anak, ia mencurahkan kasih sayangnya kepada para karyawan remaja yang bekerja di tokonya. Rumahnya yang hangat di Cianjur menjadi suaka bagi mereka yang datang dari luar kota. Ada Rina, Jenny, dan Aluvi yang berasal dari Semarang, serta Kinanta yang jauh-jauh datang dari Banten. Mereka semua tinggal di sana secara cuma-cuma, layaknya keluarga besar yang disatukan oleh nasib.

Pagi itu, suasana rumah sudah sepi. Sinar matahari yang malu-malu menembus celah jendela, menerangi kamar Ravyna yang berantakan. Seperti biasa, ia adalah orang terakhir yang terjaga. Bibi Melinda dan teman-temannya pasti sudah lama berada di toko.

Ravyna memang dikenal sebagai gadis pemalas yang hobi bergelung di balik selimut hingga matahari tinggi. Teguran, nasihat, hingga omelan gemas dari rekan-rekannya seolah hanya menjadi angin lalu yang mampir di telinganya. Namun, Bibi Melinda memiliki toleransi yang luar biasa luas untuk Ravyna.

Bukan tanpa alasan. Di balik sifat malasnya, Ravyna adalah senjata rahasia toko itu. Ia memiliki bakat alami yang langka: kemampuan persuasi. Ravyna mampu meluluhkan hati pelanggan hanya dengan satu-dua kalimat lembut yang terasa seperti mantra penjerat. Pengunjung yang awalnya hanya lewat atau tidak berniat membeli, seringkali berakhir menenteng kantong belanjaan setelah berhadapan dengan rayuan maut Ravyna. Ia adalah 'anak emas' bukan karena rasa kasihan, melainkan karena kinerjanya yang sanggup mendongkrak omzet hingga berkali lipat.

Selesai mandi, Ravyna mengenakan kemeja putih sederhana yang dibalut jaket dan celana jeans hitam. Ia keluar rumah sembari menenteng sepatu jepitnya, tas selempang menyampir di bahu kiri. Setelah mengenakan topi hitam andalannya dan membiarkan rambut pendeknya tergerai acak, ia bercermin sejenak pada kaca jendela sebelum mengunci pintu rumah.

Lihat selengkapnya