LA DI DA THE ALPHA 8A

Xielna
Chapter #3

Bab 3.


"Kakak selius mau mengantarku sampai ke rumah?" tanya Hery dengan mata membulat tak percaya.


Saat ini mereka berdua tengah berdiri di pinggir jalan menunggu angkutan umum. Begitu sebuah angkot berhenti di hadapan mereka, Ravyna segera menuntun Hery masuk ke dalam, lalu ia sendiri menyusul dan duduk di samping bocah itu.


"Tentu saja. Kamu masih kecil, tidak boleh dibiarkan berkeliaran sendirian. Bahaya kalau ada penculik yang mengincarmu," jawab Ravyna mantap.


Hery tersenyum lebar hingga matanya menyipit. "Makasih, Kakak baik."


Ravyna tersenyum lembut, tangannya terulur mengusap rambut Hery yang sewarna cokelat madu. Teksturnya terasa halus dan wangi di bawah jemarinya. "Nanti beri arahan pada Kakak ya, supaya kita tidak tersasar."


"Oke, Kak!"


Selama di perjalanan, Ravyna dibuat kagum dengan daya ingat Hery yang luar biasa tajam. Bagi anak seusianya, mengingat rute rumah setelah menempuh perjalanan cukup jauh adalah hal yang sulit, bahkan mustahil bagi sebagian anak. Namun, Hery menunjuk setiap belokan dengan presisi yang mengejutkan.


"Nah, akhirnya kita sampai di rumahku!" pekik Hery girang begitu mereka turun di depan sebuah gerbang besi yang menjulang tinggi.


Ravyna tertegun. Di balik gerbang itu, berdiri sebuah rumah megah nan mewah yang nampak begitu kokoh. Kamu yakin ini rumahmu? batin Ravyna. Jika Hery tinggal di sini, artinya dia anak orang kaya, tapi kenapa tabungannya hanya sedikit dan penampilannya begitu sederhana?


Mengedikkan bahu acuh, Ravyna menekan bel di samping pagar. Tak lama kemudian, seorang pria penjaga dengan kumis tebal dan kepala setengah pelontos datang tergopoh-gopoh membuka pintu.


Wajah si penjaga—Pak Imudin—seketika pucat pasi melihat majikan mudanya tengah menyengir tanpa dosa. Padahal, keputusan Hery menyelinap keluar rumah telah membuat abangnya murka. Belasan pengawal bahkan telah dikerahkan untuk mencari tuan muda yang menghilang tanpa jejak itu.


"Halo, Pak Imud! Kenapa bengong?" sapa Hery polos.


"Aden! Kenapa keluar rumah sendirian?" Pak Imudin langsung menghampiri Hery dengan wajah panik. "Aden tahu tidak, Abang tadi marah besar! Beliau memarahi semua penjaga dan pelayan, lalu menyuruh kami semua mencari Aden!"


Lihat selengkapnya