Laa Illaaha ilalloohu

Hermawan
Chapter #1

Chapter 1

Ia memiliki kekuatan aneh dalam tubuhnya. Angin menjadi teman dan satu jiwa dengan dirinya. Tangannya dapat melepaskan bola angin untuk membuat lubang besar atau kecil dengan sekali tembak. Walaupun begitu ia tak selalu menggunakan kekuatan dalam kehidupan dunianya. Karena itu akan membahayakan manusia. Ia memiliki ilmu silat yang luar biasa. Ketrampilan dan ketangkasannya memang sangat cepat dan impersif membuat orang lain terkesima. Namun ia tak menyombongkan dirinya untuk mendapatkan pujian dan penghargaan dari orang lain. Ia hanya takut dan ikhlas menjalankan apa yang akan menjadi petualangannya. Mulai hal yang tak biasa. Hal yang selama ini terus menerpa dirinya. Pertama kali ia berkaryawisata ke Museum Sono Budaya. Mungkin kalian akan menyebutkan kota Jogja. Memang benar. Tetapi itu bukan cerita wisata. Namun hal yang menyangkut hal diluar nalar manusia. Kekuatan miliknya telah bangkit dalam lubang yang teraniaya. Kenapa bisa dibilang begitu? Cerita ini berawal ketika dirinya berkaryawisata, karena sekolah mengadakannya. Museum Sono Budaya merupakan tempat tujuannya. Karyawisata itu dibimbing Pak Surono, guru karawitan dan seni rupa di sekolahnya. Pak Surono pria setengah baya yang bertubuh mungil. Rambutnya sudah jarang ada sedikit putih, dagu tanpa bercukur karena tak pernah tumbuh brewok. Pakaian batik lurik dengan motif bunga yang selalu berbau kopi. Orang pasti tak menganggap dia keren, tetapi dia suka bercerita dan bercanda dan membolehkan mereka bermain di kelas. Dia juga punya koleksi wayang dan gamelan karawitan yang hebat, jadi dia satu-satunya guru yang jam pelajarannya tak bikin ia mengantuk. Ia dikenal dengan panggilan Mad nama panjangnya Madapati. Ia merupakan murid sekolah SMP negeri yang tak jauh dari tempat tinggal. Orang pasti tahu rumah Dome teletubis yang disitu ia tinggal. Pada bulan Mei lalu, sewaktu murid kelas dua mereka berkaryawisata ke Yogyakarta, dua puluh delapan anak sakit jiwa dan dua orang guru naik bus sekolah biru, menuju museum Sono Budaya. Museum Sono Budaya merupakan museum seni yang cukup terkenal di jogja. Disana dipajang berbagai koleksi wayang yang mungkin sudah cukup lama dibuat sebelum Indonesia merdeka. Atau lebih tepat ketika Sri Sultan Hamengku Buwono VIII naik tahta di kerathon Yogyakarta. Karyawisata kali ini, ia tertimpa hal buruk untuk pertama kalinya. Sepanjang perjalanan masuk ke kota, ia berdiam diri menghadapi ulah Durna, anak panjang tangan berambut hitam dan bermuka bintik-bintik, yang melempari kepala sahabatnya Petruk dari belakang dengan gumpalan roti selai kacang dan saus tomat. Petruk memang sasaran empuk. Dia kerempeng. Dia menangis kalau sedang frustrasi. Kayaknya dia pernah tinggal kelas beberapa kali, soalnya dia satu-satunya anak kelas dua yang berjerawat dan mulai berjenggot tipis di dagu. Tubuhnya yang tinggi seperti tiang listrik membuat jalannya seperti orang aneh. Namun dia cukup solid dalam perawakan yang lumayan memesona. Jadi, Durna melempari Petruk dengan gumpalan roti lapis, yang kemudian menempel ke rambutnya yang hitam ikal. Mad memang bisa melawan Durna. Perawakan yang athletis, jangkung lagi tampan membuatnya lebih mudah untuk mengalahkan Durna. Namun ia tak berfikir untuk menghalangi Durna melakukan kejailan pada Petruk. Ia tahu bahwa berurusan dengan Durna akan menimbulkan banyak masalah. Karena Durna merupakan anak lurah di tempatnya tinggalnya. Jadi urusan sederhana pasti akan menjadi rumit. Ia lebih baik diam dan tetap tenang sembari membaca istighfar kepada Alloh SWT. “Astaghfirullooh,” ucap Mad berulang-ulang sembari memperhatikan Pet yang tetap tenang dan sabar menghadapi kejailan Durna. Pet melirik dan terus mengingatkannya agar tidak cepat emosi. “Aku nggak apa-apa. Aku suka kok selai kacang.‛ Dia mengelak dari segumpal lagi makan siang Durna. Mad cukup sabar dan tenang melihat ekspresi Pet yang tetap tersenyum bodoh menghadapi kejailan Durna. Dia seakan-akan sudah memasang dirinya agar menjadi sasaran empuk bagi Dur untuk kejailan yang dikerjakannya. “Dia memang payah,” desis Pet tersenyum bodoh. “Pecundang yang suka mencari gara-gara memang tidak memiliki perawakan yang cukup untuk membuat gadis terkesima.” Mad nyengir bodoh. “Kau memang gila,” kata Mad mendengus. “Astaghfirullooh.” Mereka saling tertawa tergelak dalam pandangan mata yang bahagia. Rasanya mereka berdua tak peduli dengan ulah Durna yang mencari gara-gara. Durna memang tukang jail. Dia memiliki geng komplotan yang paling ditakuti di sekolah. Walaupun dia sekelas dengan Mad, tetapi dia bukan teman yang peduli terhadap kawan. Bahkan dia sering cari gara-gara untuk sebuah hiburan semata. Anak buah yang besar, tinggi dan jangkung adalah anak kelas ketiga. Traktiran mungkin cara yang pas untuk menarik kakaknya kelas agar menjadi anak buah. Anak lurah bro! Pet merupakan sasaran empuk yang biasa dia kerjai demi hiburan yang paling membuat tawa mereka tergelak. Bus melaju kencang menyusuri jalan. Durna kembali melempar roti selai pisang ke arah Pet. Pet membaca cepat dan tangkas arah lemparan Durna yang ditujukan ke wajahnya. Namun sial menimpa Durna, roti selai itu menghantam muka Pak Surono. Dia tampak cemas dan ketakutan menyambar ekspresi wajahnya. Tubuhnya terlihat tegang ketika Pak Surono mengeryitkan dahi menatap ke semua siswanya. Semua siswa menahan tawa agar kemarahan Pak Suroni tidak menjadijadi. Pak Surono mengedikkan bahu. “Siapa yang berani melakukan ini?” tanya Pak Surono tajam dan sengit. Semua murid tertunduk. Mad bangkit, tetapi Pet menariknya agar kembali duduk. Namun ia tak peduli. Kepercayaan tinggi dan keberanian telah terpatri dalam dirinya agar beban berat untuk menjera Durna bertanggung jawab. “Durna, Pak!” desis Mad sengit. “Dia yang melempar roti selai itu. Petruk sebenarnya incaran tetapi Petruk menghindari hingga menghantam muka bapak.” Ia menahan senyum agar tidak menjadi pelampisan sang guru. Ia tahu bahwa menghina guru sama hal menghina kedua orang tuanya. “Apa benar itu Durna?” tanya Pak Surono. “Memang apa salahnya kue ini kau lempar. Apakah kau tahu bahwa membuang makan itu dosa?” Durna tertunduk. Dia tak mampu menatap sang guru yang terlihat kesal, menyebalkan dan marah menghantam mukanya. Rasanya bumi berada jauh dari pijakan kakinya. Tetapi dia tak bisa berbuat banyak. Hukuman atau penalty mungkin skorsing akan menjadi beban berat baginya. Anak lurah bro! “Apa kau tak bisa menjawab Durna?” tanya Pak Surono lagi sengit. “Inggih Pak!” kata Durna parau. “Aku salah Pak!” Pak Surono menelengkan kepala. “Sekarang push up lima puluh kali!” kata Pak Surono tegas. “Siap Pak!” kata Durna mendengus. Ada keterpaksaan dari ekspresi wajah Durna. Rasanya ini tak bisa diterima tetapi dia tak bisa menolaknya. Dimana Pak Surono memang teman bapaknya, dia tahu laporan buruk menimpanya. Karena uang saku bila berkurang bila Pak Surono melaporkan pada bapaknya. Durna melakukan push up didepan semua temannya. Semua murid meringis menyaksikan kepala geng mendapatkan hukuman dari sang guru. Pet terlihat senang dan bahagia melihat hukuman akhirnya menimpa Durna. Padahal dia tak berharap Durna mendapatkan hukuman tetapi dia tak menyangka akan begini jadinya. Mungkin Durna lagi sial. Bus telah sampai di museum. Tepat di parkiran bus itu mendaratkan bodinya. Matahari cukup panas diatas kepala bus menyambar. Namun udara masih cukup hangat karena pohon rindang melindungi body bus mereka. Durna akhirnya menyelesaikan push up dengan susah payah. Tubuhnya yang gempal lagi jangkung membuat beban berat untuk push up begitu menyiksa dirinya. Keringat membasahi seluruh kemeja seragam yang dikenakannya. “Selesai Pak!” lapor Durna. Pak Surono menganggukkan kepala. “Ganti pakaianmu!” katanya. “Dan segera bergabung dengan yang lain. Jangan ulangi lagi perbuatan itu!” “Sendika Pak!” kata Durna mantab. Pak Surono memimpin tur museum. Dia meluncur tegap dan berwibawa di depan, memadu mereka melintasi galerigaleri besar yang menggema, melewati Ruang Pendopo yang terdapat koleksi dua buah meriam serta berbagai arca dan relief yang merupakan peninggalan umat Hindu dan Budha. Ruang Pengenalan, akan disuguhkan dengan koleksi pasren dan krobongan. Ruang Prasejarah menyimpan berbagai benda peninggalan yang berasal dari zaman prasejarah. Pada ruangan ini juga menggambarkan kehidupan manusia prasejarah dari cara berburu hingga benda-benda yang digunakan untuk memasak makanan. Mad terkagum-kagum bahwa barang-barang ini telah bertahan selama ratusan tahun lebih. Mereka melewati dan menikmati koleksi-koleksi kain batik dengan corak yang berbeda-beda. Koleksi ini dapat ditemukan di Ruang Batik, tak hanya itu diruangan ini juga tersaji benda-benda yang digunakan dalam proses membuat kain batik hingga jadi. Pak Surono mengumpulkan mereka di Ruang Wayang. Dia lalu menceritakan tentang kisah-kisah pewayangan yang sering dimainkan dalang. Bahkan dia begitu hanyut menjelaskan tentang nama-nama wayang dengan seksama. Kisah Pandawa dan Kurawa adalah kisah yang memberikan sugesti tentang ceritanya. Mad berusaha menyimak, karena uraiannya cukup menarik, tetapi semua anak di sekitarnya malah mengobrol, dan setiap kali ia menyuruh mereka tutup mulut, guru pembimbing mereka satu lagi, Bu Mel, mendelik kepadanya. Bu Mel ini guru matematika asal Jakarta yang bertubuh mungil, yang selalu memakai jaket kulit hitam, meskipun umurnya sudah lima puluh tahun. Dia tampak cukup garang untuk mengendarai mobil Nissan Juke ke dalam loker. Dia datang ke Jogja pada pertengahan tahun, ketika guru matematika mereka ditugaskan untuk pergi ke Kalimantan. Sejak hari pertama Bu Mel menyukai Durna dan menganggap Mad anak setan. Dia sering menuding Mad dengan jari bengkok dan berkata, “Nah, anak manis,” dengan manis sekali, dan ia langsung tahu ia akan diskors seusai sekolah selama sebulan. Suatu kali, setelah dia menyuruh Mad menghapus jawaban dari buku-buku latihan matematika tua sampai waktu pulang sekolah, ia bilang pada Pet, kayaknya Bu Mel itu bukan manusia. Pet memandang Mad, serius sekali, dan berkata, “Kau benar sekali.” Pak Surono terus berbicara tentang seni pertunjukkan wayang. Akhirnya, Durna terkekeh sambil mengatakan sesuatu tentang Durna dalam pertunjukkan wayang, dan Mad berbalik dan berkata, “Tutup mulut, bisa nggak sih?” Ucapan itu keluar lebih nyaring daripada yang ia niatkan. Semua anak tertawa. Pak Surono berhenti bercerita. “Mada,” katanya, “tadi kau berkomentar?” Muka Mad merah padam. Kata Mad, “Nggak, Pak.” Pak Surono menunjuk salah satu gambar cerita wayang. “Coba kau ceritakan apa yang dilukiskan dalam gambar ini.” Mad memandang lukisan itu, dan merasa lega karena ia ternyata mengenalinya. “Itu Werkudara bertarung dengan ular?” “Betul,” kata Pak Surono, jelas belum puas. “Ini adalah kisah wayang yang banyak menginspirasi. Dewa Ruci. Apa kalian tahu lakon ini?” “Dewa Ruci,” ulang Mad memikirkan. Ia mengingat malam tadi. Dimana salah satu radio yang didengarkannya semalam adalah kisah wayang dan lakon Dewa Ruci. “Dewa Ruci yang merupakan cerita asli wayang Jawa memberikan gambaran yang jelas mengenai hubungan harmonis antara Kawula dan Gusti, yang diperagakan oleh Bima atau Aria Werkudara dan Dewa Ruci. Dalam bentuk kakawin (tembang) oleh Pujangga Surakarta, Yosodipuro berjudul: “Serat Dewaruci Kidung” yang disampaikan dalam bentuk macapat, berbahasa halus dan sesuai rumus-rumus tembang, dengan bahasa Kawi, Sanskerta dan Jawa Kuna.” “Iiiih!” kata seorang gadis di belakang Mad. “….Durna memberi petunjuk kepada Sena atau Werkudara,” lanjut Mad. “Bahwa jika ia telah menemukan air suci itu, maka akan berarti dirinya mencapai kesempurnaan, menonjol diantara sesama makhluk, dilindungi ayah-ibu, mulia, berada dalam triloka, akan hidup kekal adanya. Dikatakan pula bahwa letak air suci ada di hutan Tibrasara, dibawah Gandawedana, di gunung Candramuka, di dalam gua. Kemudian setelah ia mohon pamit kepada Druna dan prabu Suyudana, lalu keluar dari istana, untuk mohon pamit, mereka semua tersenyum, membayangkan Sena berhasil ditipu dan akan hancur lebur melawan dua raksasa yang tinggal di gua itu, sebagai rasa optimisnya ,untuk sementara mereka merayakan dengan bersuka-ria, pesta makan minum sepuas-puasnya.” “Kau bilang Durna,” ulang Durna menegaskan. “Aku memang Durna. Lalu apa hubungan dengan pelajaran sekolah. Itu hanya kisah wayang.” Dia menyeringai bodoh. Ekspresi wajahnya penuh kelicikan. “Kau sendiri juga licik,” desis Pet menyeringai. “Kau selalu mengerjaiku. Bukankah seperti Durna dalam pewayangan jawa. Licik dan cari muka.” Pet tersenyum bodoh. Terdengar cekikikan dari anak-anak. “Licik,” ulang Durna mendesis. “Memang nama Durna licik. Baru tahu.” Seolah-olah dia terlihat bodoh dan menandakan dirinya acuh. “Makanya sering tonton pertunjukkan wayang,” desis Pet sengit. “Biar pengetahuanmu bertambah. Padahal kau orang Indonesia suku jawa pula. Masa sama wayang saja kau tak mengerti.” Terdengar lagi cekikikan dari anak-anak. Di belakang Mad, Durna berbisik kepada temannya, “Memangnya pelajaran ini bakal kita pakai di kehidupan nyata? Pada formulir lamaran kerja kan nggak bakal ada pertanyaan, ‘Jelaskan mengapa Bima mau melakukan hal itu bila nyawa taruhannya’?” “Dan Mada,” kata Surono, “mengutip pertanyaan bagus dari Durna, mengapa pengetahuan ini penting dalam kehidupan nyata?” “Nah lho, ketahuan,” gumam Pet. “Cerewet,” desis Durna, mukanya memerah, bahkan lebih cerah daripada rambutnya. Setidaknya dia kena disindir juga. Cuma Pak Surono yang pernah menangkap Durna berkata jelek. Telinga Pak Surono seperti radar. Mad memikirkan pertanyaan itu, lalu mengangkat bahu. “Tekad yang kuat. Keimanan kepada Sang Pencipta menyakinkan Bima bahwa ada air yang dicari itu pasti ada.” “Baiklah.” Pak Surono tampak bahagia. “Oke, kau mendapat nilai memuaskan. Sekerang waktunya kita makan siang terlebih dahulu. Bu Mel pandu mereka keluar museum.” Anak-anak berjalan pergi, anak-anak perempuan memegangi perut, anakanak lelaki saling mendorong dan bertingkah seperti anak bego.

Lihat selengkapnya