Labirin Aksara Cinta

Larasati
Chapter #1

Bab 1 Kilas Balik Mahar dan Tawa

Suara dengkuran itu, aku sudah hafal. Tandanya … ia sedang benar-benar kelelahan. Detak jam terus berputar mengalahkan degup jantungku saat memandanginya dengan perasaan campur aduk di kala matanya terpejam. Hanya di saat-saat inilah aku bisa mengenang kembali momen indah kami bersama. Meski hanya aku yang merasakannya.

Aku Cinta, Cinta Kirana. Bukan Citra Kirana. Wajah kami memang hampir sama. Tapi, tidak dengan wataknya. Aku lebih ekspresif dan sedikit gila. Dalam artian, kurang bisa serius jika diajak berbicara. Bawaannya ingin melawak saja. Entah apa yang tengah bergelayut di kepalaku. Mungkin seekor cacing kepanasan, sehingga sikapku tak ubah demikian.

Beberapa bulan ini, aku sering galau. Karena belahan jiwaku terlihat dingin dan tenang-tenang saja dalam menghadapi sikapku yang semakin hari semakin menggila. Aku tak tahu cara untuk mengembalikan senyum itu lagi seperti dulu. Saat di mana kami bertemu di sebuah acara taarufku dengannya.

Aku memandang album foto kami kembali yang sudah dipenuhi debu—jarang kubersihkan. Ia pun memilih membiarkan. Jadi, ya sudah. Jadilah album ini bagai album yang dimiliki oleh orang-orang yang telah berpulang ke Rahmatullah. Sepi dan sunyi tanpa disentuh dan dipandang sama sekali.

Kini, aku kembali membukanya. Membiarkan diri kembali masuk pada kenangan tujuh tahun silam itu. Saat di mana, obrolan kita masih panjang lebar. Masih banyak yang bisa kita ceritakan. Masih ada getaran yang pelan-pelan kini aku rindukan kembali. Saat di mana, kami belum terikat akad, namun … sudah terlanjur saling menaruh rasa.

7 September 2018

“Cinta! Sudah siap? Aduh! Mana lipstik yang agak merah? Ini terlalu pucat. Nanti calonmu nggak tertarik, loh.” Nenek—ia selalu saja cerewet kalau sudah urusan cucunya diminati lelaki. Aku menarik napas kuat, kemudian mengembuskannya dengan kasar.

“Kenapa sih, Nek? Harus pakai lipstik merah segala? Cinta belum emak-emak beranak dua loh, Nek.”

“Eh, ini anak ini dibilangin nggak mau dengar. Udah. Patuh aja sama omongan orang tua. Nenek lebih berpengalaman dari kamu yang masih bau kencur gini.” Wejangan Nenek sama sekali tak membuatku terharu. Justru semakin menambah kisruh hatiku. Ya, apa pun itu mungkin Nenek tengah bersemangat karena cucunya sebentar lagi sold out.

“Ha, itu motornya. Dia sudah datang.” Semua mata kini menatap pada motor Honda Supra X 125 yang berhenti di depan rumah kami. Sederhana, namun terlihat gagah dan gentleman. Aku masih berdiri di pintu kamar, memandang sosok itu dari balik tirai pintu. Aku baru saja sibuk merias diri dengan riasan alakadarnya. Lipstik pink dikombinasikan dengan warna merah menyala, agar warnanya alami.

“Cinta! Sudah dandan? Nah, gitu kan cantik. Ayo, duduk di sini,” ucap Nenek memanduku dalam proses taaruf.

Lelaki yang selama ini hanya kulihat melalui foto di layar ponsel itu, kini hadir dalam wujud yang nyata. Bergerak, bernapas, menatap.

“Ehem. Anak, namanya siapa?” tanya Nenek seolah tengah menginterogasinya.

Ia tampak gugup, lalu menjawab.

“Devan, Nek.”

“Oh, Devan? Nama yang bagus. Orangnya juga. Cocok dengan cucu Nenek. Iya kan, Cinta?”

Aku spontan menoleh pada Nenek. Setelah lama menunduk. Kali ini, kupandangi sosok itu. Ia tampan, kulit cokelat manis, hidung mancung bak keturunan Arab-India. Sementara aku? Ah … sudahlah, PD saja.

“Nak, Devan kerja di mana?” tanya Mama setelah lama berdiam diri karena selalu disela oleh Nenek.

“Saya, security di sebuah PT.”

“Oh ya, permanen?” tanya Nenek menyela ucapan Mama.

“Permanen, in syaa Allah.”

“Bagus. Ha … PT-nya di mana, ya kalau boleh tahu?”

Lihat selengkapnya