Labirin Ingatan di Rumah Kamakura

Tethy Ezokanzo
Chapter #2

Kereta Terakhir Menuju Rumah Pesisir

Dunia bagi Emiko seringkali hanya sebatas jendela kaca kereta yang buram oleh uap napas dan sisa gerimis.

Menjelang pukul delapan malam, Stasiun Shinjuku tampak seperti sebuah sarang semut raksasa yang sedang dilanda kepanikan masal. Ribuan orang dengan setelan jas gelap dan kemeja putih yang sudah lungset bergerak searah, bergesekan, terseret oleh arus waktu yang tak pernah berhenti. Mereka adalah para salaryman dan office lady yang energinya telah habis diperas oleh gedung-gedung pencakar langit Tokyo.

Emiko adalah salah satu dari mereka. Ia berdiri di peron Jalur Shonan-Shinjuku, bahunya terasa turun beberapa sentimeter. Beban itu bukan hanya karena tas kerja berbahan kulit sintetis yang berisi laptop dan tumpukan kertas revisi desain dari kliennya yang cerewet, tetapi karena beban tak kasat mata yang menumpu di pundaknya sejak ia melangkah keluar dari gedung kantornya yang kaku.

Di Tokyo, ia bisa menjadi siapa saja, seorang desainer periklanan yang efisien dan andal. Namun, setiap kali malam tiba, topeng profesional itu perlahan retak, digantikan oleh kecemasan purba yang selalu muncul ketika ia harus pulang.

"Kereta tujuan Odawara akan segera tiba di peron satu. Harap berdiri di belakang garis kuning," suara operator stasiun terdengar dingin, datar, dan mekanis, memecah kebisingan langkah kaki yang terburu-buru di atas lantai semen.

Saat pintu gerbong kereta terbuka, Emiko tidak berjalan masuk; ia terdorong oleh massa yang bergerak seperti ombak padat. Tubuhnya terjepit di antara seorang pria paruh baya yang berbau rokok kretek dan alkohol murah, serta seorang wanita muda yang sibuk membetulkan letak bulu mata palsunya. Emiko berhasil mendapatkan posisi yang sedikit menguntungkan di dekat pintu geser kaca. Ia mencengkeram pegangan besi di atas kepalanya. Besi itu terasa dingin dan licin oleh keringat ratusan tangan yang telah memegangnya sepanjang hari. Kereta mulai bergerak dengan sentakan pelan, perlahan meninggalkan kerlip lampu neon Shinjuku yang menyilaukan dan bising, bergerak menuju kegelapan pinggiran kota.

Di dalam gerbong yang padat itu, hanya ada keheningan yang aneh. Itu adalah jenis keheningan yang lahir dari kelelahan yang ekstrem. Tidak ada yang saling berbicara. Semua orang menatap layar ponsel mereka yang berpendar biru, atau memejamkan mata erat-erat, mencoba mencuri waktu tidur beberapa menit sebelum tiba di stasiun tujuan.

Emiko memilih untuk menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang gelap. Di balik bayangan siluet wajahnya sendiri, lampu-lampu kota Tokyo melesat cepat seperti garis-garis cahaya yang pudar. Rambut hitam sebahunya sedikit berantakan akibat terpaan angin peron, dan matanya, mata yang sering dikatakan orang mirip dengan ibunya, tampak redup, dikelilingi lingkaran hitam tipis.

Gatan-goton... gatan-goton...

Irama kereta adalah detak jantung dari wilayah metropolitan ini. Namun bagi Emiko, setiap dentuman roda baja di atas rel adalah sebuah hitungan mundur yang tak menyenangkan. Kereta ini tidak sedang membawanya menuju sebuah tempat perlindungan yang hangat, melainkan menuju sebuah bangunan kayu dua lantai di Kamakura yang ia cintai sekaligus ia takuti. Sebuah tempat yang secara hukum adalah alamat tinggalnya, namun secara emosional selalu gagal ia sebut sebagai "rumah". Ia membayangkan struktur kayu tua yang dibangun oleh kakeknya itu. Rumah pesisir yang selalu menyimpan aroma kayu lembap, lantai tatami yang mulai menguning, dan suara jarum yang menusuk kain dengan ritme yang terlalu teratur.

Lihat selengkapnya