
Di ujung lorong, di ruang makan utama yang beralaskan tatami hijau yang mulai memudar warnanya, siluet Michiru terlihat jelas di bawah pendar lampu gantung. Wanita paruh baya itu sedang duduk bersimpuh dengan punggung yang tegak sempurna, membelakangi pintu masuk. Tangannya bergerak ritmis, menusukkan jarum ke atas permukaan kain katun biru tua, melakukan teknik sulaman tradisional sashiko.
"Sudah makan?" tanya suara itu tanpa jeda, tepat ketika kaki Emiko menyentuh batas lantai kayu lorong.
Michiru sama sekali tidak berbalik, bahkan tidak menghentikan gerakan jarum di tangannya. Aroma sup miso yang pekat bercampur dengan uap ikan makarel panggang yang gurih langsung menyergap indra penciuman Emiko, saat ia mendekati ruang makan. Hidangan itu ada di sana, siap saji, namun tidak ada kehangatan atmosfer yang menyertainya. Pertanyaan "sudah makan?" itu menggantung di udara ruangan, terasa kering, mekanis, dan sepenuhnya bersih dari rasa ingin tahu yang tulus.
Itu bukan pertanyaan tentang kondisi kesejahteraan fisik atau emosional Emiko setelah seharian bekerja di Tokyo. Itu adalah sebuah pertanyaan logistik untuk menentukan apakah Michiru harus segera membereskan meja makan dan mencuci piring sekarang, atau harus menunggu sepuluh menit lagi.
Emiko menatap punggung ibunya yang dilapisi kimono katun tipis berwarna abu-abu tua. Garis bahunya lurus, tidak menunjukkan tanda-tanda penuaan atau kelelahan, seperti sebuah patung batu yang dipahat dengan presisi.
"Belum, Bu."
"Cepat ganti pakaianmu dan cuci tanganmu di dapur. Nasi yang baru matang akan segera kehilangan jiwanya jika dibiarkan terlalu lama," balas Michiru, nadanya datar tanpa fluktuasi emosi sedikit pun.
Emiko berjalan menuju kamarnya di lantai bawah, meletakkan tas kerjanya yang berat di sudut ruangan, dan mengganti pakaian kantornya yang kaku dengan piyama berbahan katun longgar berwarna abu-abu pucat. Setelah itu, ia berjalan menuju wastafel dapur yang terletak di samping ruang makan. Sambil membasuh telapak tangannya dengan air keran yang dinginnya terasa menusuk hingga ke tulang-tulang jarinya.
Ia mendongak, menatap pantulan dirinya di cermin kecil yang permukaannya mulai buram oleh flek-flek hitam penuaan kaca. Di sinilah ia berada, di titik akhir dari seluruh rangkaian perjalanannya hari ini. Sebuah pelarian panjang dari kebisingan dunia luar yang egois, hanya untuk mendarat tepat di pusat kesunyian terdalam yang paling ia kenal sejak lahir.
Ia berjalan kembali ke ruang makan dan duduk bersimpuh di atas bantal duduk zabuton yang empuk. Di depan tempat duduknya, sebuah mangkuk nasi keramik putih dengan pola bunga plum kecil yang elegan, sudah terisi penuh oleh nasi putih yang uapnya masih mengepul tipis, menari-nari di udara ruangan yang lembap akibat sisa gerimis di luar.
"Duduklah dengan benar. Jangan membungkuk saat menghadap makanan," kata Michiru pelan. Suaranya tidak pernah keras, namun memiliki otoritas alami yang tak terbantahkan, jenis suara yang membuat orang secara tidak sadar langsung menuruti perintahnya.
Emiko memperbaiki posisi duduk bersimpuhnya, melipat kakinya dengan rapi di bawah tubuhnya. Ia menatap hidangan makan malam yang tersaji di atas meja kayu berkaki pendek tersebut dengan perasaan yang selalu campur aduk. Ikan makarel panggang di atas piring kecil itu memiliki permukaan kulit yang cokelat keemasan yang sempurna, sedikit berminyak alami dan mengeluarkan aroma laut yang gurih. Di sampingnya, terdapat semangkuk kecil kinpira gobo, tumisan akar teratai dan wortel, yang dipotong dengan presisi yang luar biasa rumit sekaligus mengerikan. Setiap batang wortel dan akar teratai memiliki panjang dan ketebalan yang hampir identik satu sama lain, seolah-olah Michiru sengaja menggunakan penggaris milimeter sebelum mengirisnya di atas talenan.
"Selamat makan," gumam Emiko pelan. Itadakimasu.
Ia menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada selama satu detik, lalu mengambil sumpit bambunya yang halus. Keheningan pekat segera turun kembali menyelimuti ruangan makan tersebut, seolah-olah kata-kata yang baru saja diucapkan Emiko adalah partikel terakhir yang diizinkan bergetar di udara. Satu-satunya suara yang tersisa adalah suara detak jam dinding kuno buatan Jerman yang tergantung di pilar kayu sudut ruangan. Bunyi tok... tok... tok... dari pendulum besinya terasa konstan dan berat, menyerupai suara palu kayu yang sedang menghantam paku ke atas peti mati.
Di Jepang, makan dalam diam sering kali dianggap sebagai bentuk penghormatan tertinggi terhadap makanan dan alam yang menyediakannya, namun di dalam bangunan kayu Kamakura ini, diam itu tidak terasa seperti bentuk spiritualitas. Diam itu terasa seperti sebuah dinding benteng pertahanan yang sengaja dibangun untuk memisahkan dua manusia.
Emiko menggunakan ujung sumpitnya untuk mengambil sepotong kecil daging ikan makarel. Ia memasukkannya ke dalam mulut. Rasanya benar-benar sempurna. Rasa asin yang pas dari garam laut bercampur dengan sentuhan rasa manis yang sangat tipis dari cairan mirin. Michiru adalah seorang juru masak yang luar biasa, tidak ada yang bisa membantah hal itu.
Jika rasa cinta seorang ibu kepada anaknya bisa diukur secara kuantitatif dari presisi takaran bumbu, kebersihan sendok, dan suhu ideal nasi hangat yang disajikan, maka Emiko seharusnya menobatkan dirinya sebagai anak yang paling beruntung dan penuh kasih sayang di seluruh Prefektur Kanagawa. Namun, ia tahu kenyataan pahit di balik itu semua.
Bagi Michiru, aktivitas memasak bukanlah sebuah ekspresi emosi atau curahan kasih sayang yang tulus dari seorang ibu untuk menyambut anaknya yang lelah bekerja. Memasak adalah sebuah tugas. Sebuah disiplin harian yang wajib diselesaikan. Sebuah cara mekanis untuk memastikan bahwa "fungsi fisik" seorang ibu telah terpenuhi secara sempurna di mata hukum dan masyarakat, tanpa harus melibatkan setetes pun "perasaan atau keterikatan emosional" seorang ibu.
"Bagaimana rasa ikannya? Aku membelinya di pasar dekat stasiun tadi pagi setelah hujan reda. Penjualnya bilang itu adalah hasil tangkapan terbaru dari nelayan lokal," tanya Michiru tiba-tiba, suaranya memecah keheningan yang sejak tadi terasa mencekik dada Emiko.