Labirin Ingatan di Rumah Kamakura

Tethy Ezokanzo
Chapter #4

Fragmen Masa Kecil yang Pucat

Pagi di Kamakura selalu dimulai dengan rangkaian suara yang sama, sebuah simfoni ketertiban yang tak pernah meleset satu detik pun: seretan sapu lidi Michiru di atas jalanan setapak yang berkerikil di halaman depan, diikuti bunyi klontang pelan dari tempat sampah logam yang dikosongkan. Bagi orang luar, suara-suara itu mungkin terdengar seperti tanda dimulainya hari baru yang produktif. Namun bagi Emiko, setiap ketukan fungsional itu hanyalah perpanjangan dari kesunyian malam yang mencekam. Rumah ini tidak pernah benar-benar terbangun, ia hanya berpindah dari fase tidur yang sepi menuju fase terjaga yang steril.

Saat ia membuka kedua matanya perlahan dan menatap langit-langit kamar kayunya, yang memiliki serat-serat kecokelatan meliuk-liuk mirip aliran sungai purba yang membeku, ingatannya mendadak terseret jauh ke belakang. Pikiran Emiko terlempar ke sebuah masa di mana ia masih cukup pendek untuk melihat dunia dari ketinggian lutut ibunya. Sebuah masa di masa kanak-kanak, di mana ia masih memiliki kepolosan dan percaya bahwa jika ia berusaha cukup keras, patuh cukup rajin, dan menangis cukup keras, ia akan mampu mencairkan es di hati Michiru dan menemukan sebuah rumah yang hangat di balik dinding kayu tradisional ini.

Tahun itu, Emiko baru berusia sepuluh tahun. Kamakura sedang dipeluk oleh musim panas yang terik dan membakar. Suara serangga tonggeret, higurashi, bersahut-sahutan tiada henti dari kanopi pepohonan rindang di perbukitan belakang rumah, menciptakan dengungan konstan yang seolah membuat udara siang itu terasa semakin panas dan menyesakkan. Emiko kecil berdiri di depan ambang pintu dapur, telapak tangan anak-anaknya yang agak berkeringat menggenggam erat sebuah kertas gambar yang baru saja ia buat dengan penuh semangat di sekolah. Gambar itu sederhana, khas coretan anak-anak: dua sosok wanita bergandengan tangan di bawah pohon sakura yang mekar. Salah satunya memiliki rambut pendek rapi seperti ibunya, dan sosok yang lebih kecil memiliki kuncir dua persis seperti dirinya sendiri. Di sudut atas kertas, terdapat goresan spidol merah berbentuk bintang besar dari gurunya.

"Ibu," panggilnya dengan suara cempreng dan riang khas anak-anak, matanya berbinar penuh harap.

Michiru sedang berdiri di depan meja dapur kayu, membelakanginya. Wanita itu sedang memotong lobak putih untuk dijadikan acar musim panas. Suara pisaunya yang tajam beradu dengan permukaan talenan kayu tebal, menghasilkan ritme yang sangat cepat, konstan, dan presisi. Tok-tok-tok-tok. Ukuran potongan lobak itu jatuh dengan ketebalan yang sama rata, seolah dipotong oleh mesin pabrik yang andal.

"Ibu, lihat ini. Guru memberikan bintang merah besar di gambarku," Emiko melangkah mendekat, mencoba menyelipkan kertas gambarnya yang penuh warna krayon di antara celah lengan Michiru dan meja dapur, berharap ibunya akan menghentikan pekerjaannya sejenak.

Pisau dapur itu mendadak berhenti di udara. Michiru tidak menoleh sama sekali, namun Emiko kecil bisa melihat dengan jelas bagaimana bahu ibunya tampak menegang kaku di bawah kain celemeknya.

"Emiko, Ibu sedang menggunakan benda tajam di dapur. Berdirilah agak jauh di belakang. Sangat berbahaya jika kau mengejutkan Ibu seperti itu," suara Michiru terdengar datar, bersih dari intonasi amarah namun mutlak tanpa bantahan.

"Tapi aku mendapat bintang dari guru karena gambar ini bagus sekali," Emiko bersikeras, kaki kecilnya berjingkat. Ia ingin sekali Michiru mengambil kertas itu dengan tangannya, merasakan tekstur krayon yang tebal, dan mungkin, hanya mungkin, mengusap puncak kepalanya atau mengecup dahinya sebagai tanda bangga seorang ibu. Ia mendambakan pengakuan bahwa dirinya berharga di dalam rumah ini.

Michiru akhirnya melirik sekilas, hanya satu detik, ke arah kertas gambar yang disodorkan anaknya. "Bagus. Kau melakukan tugas sekolahmu dengan benar. Sekarang, letakkan kertas itu di atas meja kayu di ruang tamu. Jangan ditaruh di sini, nanti terkena cipratan air dapur dan warnanya akan rusak."

Lihat selengkapnya