Labirin Ingatan di Rumah Kamakura

Tethy Ezokanzo
Chapter #5

Cinta yang Tak Sampai Genkan

Emiko dewasa membuka matanya sepenuhnya di atas kasurnya. Udara pagi merayap masuk. Ia menyentuh pipinya dengan ujung jari dan menyadari permukaannya sedikit basah oleh sisa air mata. Di usianya yang kini telah menginjak dua puluh lima tahun, luka penolakan dari masa kanak-kanak itu ternyata belum pernah benar-benar sembuh atau mengering. Luka itu hanya tertutup oleh rutinitas waktu dan tumpukan kesibukan kerja di Tokyo, namun ia akan kembali berdenyut perih setiap kali aroma hujan yang lembap atau keheningan mutlak dari rumah pesisir ini menyentuh kulitnya.

Ia bangkit dari futon-nya, lalu melipat kasur dan selimutnya dengan tingkat kerapian yang sangat presisi, sebuah kebiasaan disiplin kaku yang ditanamkan Michiru dengan cambukan kata-kata dingin sejak ia kecil. Emiko berdiri, menatap ke arah pintu kamarnya yang tertutup rapat. Di balik lembaran kertas pintu itu, ia tahu pasti bahwa ibunya saat ini sudah sibuk di dapur, menyiapkan menu sarapan pagi yang sempurna secara teknis, bergizi seimbang, namun sepenuhnya hamba dan steril dari kehangatan sebuah keluarga.

Emiko berjalan mendekati jendela kamar, membukanya selebar beberapa sentimeter. Udara pagi Kamakura yang menusuk dingin segera berebut masuk, membawa serta aroma pohon pinus basah dan uap air laut yang asin. Ia teringat kembali kata-kata dingin Michiru puluhan tahun lalu di dapur: "Dunia ini keras, Emiko."

"Mungkin benar dunia luar ini sangat keras dan egois, Ibu," bisik Emiko lirih pada embusan angin pagi yang menerpa wajahnya. "Tapi kaulah yang pertama kali membuat rumah ini terasa jauh lebih dingin daripada dunia luar."

Ia kemudian mulai bersiap-siap menghadapi hari itu. Ia mengenakan setelan seragam kantor periklanannya yang kaku, memoles wajahnya dengan riasan kosmetik agar tampak sebagai wanita karier yang profesional, tangguh, dan efisien, seraya mengubur kembali dalam-dalam seluruh fragmen masa kecilnya yang pucat ke dalam sudut hatinya yang paling gelap. Emiko belum menyadari bahwa sebentar lagi, sebuah rahasia yang tersimpan di dalam ruang pengap rumah mereka akan memaksanya untuk menggali kembali semua fragmen ingatan itu, memaksa labirin rumahnya terbuka satu per satu.

Pikiran Emiko kembali melompat, kali ini melintasi waktu menuju masa remajanya, sebuah masa transisi di mana rasa haus akan pelukan seorang ibu perlahan-lahan berubah menjadi rasa malu yang tajam, sebelum akhirnya mengeras menjadi bentuk kebencian yang sunyi dan dingin di dalam rumah.

Saat itu usia Emiko menginjak empat belas tahun. Musim panas kembali menyapa kota pesisir Kamakura, namun kali ini bukan sekadar suara tonggeret yang meramaikan bukit, melainkan keriuhan atmosfer Matsuri (festival musim panas) yang mulai terasa gaungnya di setiap sudut jalan pemukiman. Teman-teman perempuan di sekolah Emiko sibuk membicarakan pola kain Yukata (kimono katun musim panas) baru yang akan mereka kenakan, serta membuat janji temu yang seru di pelataran kuil saat kembang api raksasa meledak menghiasi langit malam Kamakura.

Emiko pulang sekolah siang itu dengan jantung yang berdebar kencang oleh kegembiraan remaja yang langka. Di dalam tas sekolahnya, terdapat sebuah kantong kertas kecil berisi sepasang pita rambut berwarna biru muda baru yang ia beli menggunakan sisa uang sakunya sendiri setelah berhemat berbulan-bulan. Ia sangat ingin sekali Michiru bersedia membantunya mengenakan Yukata lama bermotif bunga krisan milik ibunya yang tersimpan di lemari besar, membantu menyisir rambut hitamnya yang panjang, dan mungkin, jika ia beruntung, memuji penampilannya betapa ia sudah tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang manis.

Saat melangkah masuk ke dalam genkan, ia menemukan Michiru sedang berlutut di atas lantai kayu lorong, menggosok permukaan papan dengan menggunakan selembar kain lap putih yang setengah basah. Gerakan tubuh ibunya sangat ritmis dan mekanis: maju, mundur, maju, mundur, seolah-olah aktivitas membersihkan lantai itu adalah sebuah upacara penyucian sakral yang tidak boleh dihentikan oleh apa pun.

"Ibu, besok malam ada festival musim panas besar di kompleks kuil dekat stasiun," kata Emiko pelan sambil melepaskan sepatu uwabaki sekolahnya dan meletakkannya di rak kayu.

Michiru sama sekali tidak menghentikan gerakan menggosoknya. "Aku sudah tahu dari pengumuman distrik. Suara tabuhan drum Taiko-nya pasti akan terdengar sangat bising sampai ke dalam rumah kita."

"Teman-teman sekelasku mengajakku pergi bersama besok malam. Bolehkah... bolehkah aku meminjam dan memakai Yukata kain biru milik Ibu yang disimpan di lemari besar lantai atas?" Emiko bertanya dengan nada suara yang penuh harap, matanya menatap punggung ibunya.

Lihat selengkapnya