
Stasiun Shiodome pukul tujuh pagi adalah sebuah mesin penggiling manusia yang bergerak tanpa ampun.
Emiko berdiri kaku di tengah arus setelan jas hitam dan mantel kelabu yang bergerak searah, merasa seperti butiran pasir malang yang terseret banjir bandang. Di Tokyo, individu hanyalah deretan angka dan statistik di atas kertas. Mereka yang berani berhenti sejenak hanya untuk menghela napas atau membetulkan tali sepatu akan segera ditabrak dan digilas oleh ambisi serta keterburuan orang lain di belakangnya.
Gedung kantornya, sebuah menara pencakar langit dari kaca dan baja yang menjulang angkuh di distrik bisnis, tampak seperti sebilah pedang raksasa yang sengaja ditusukkan untuk membelah langit pagi yang kelabu. Di dalam sana, pendingin ruangan selalu disetel pada suhu rendah yang nyaris membekukan kulit. Emiko sering berpikir bahwa perusahaan sengaja melakukan itu demi memastikan tidak ada emosi hangat atau sentimentil manusiawi yang bisa bertahan hidup dan mengganggu produktivitas kerja para karyawan. Gedung itu adalah rumah sekunder yang efisien, namun sepenuhnya hampa jiwa.
Emiko duduk di kubikelnya yang sempit dan bersekat abu-abu. Di atas meja kerjanya, tumpukan berkas proyek kampanye periklanan bertajuk "Luminous Watch" sudah menanti untuk disentuh. Ini adalah proyek hidup dan matinya di divisi kreatif. Selama enam bulan terakhir, ia tidak lagi mengenal apa itu akhir pekan. Ia bahkan telah melupakan bagaimana rasanya menikmati secangkir kopi hangat secara perlahan tanpa dikejar tenggat waktu. Baginya, cairan kafein kini hanyalah bahan bakar mekanis untuk otaknya yang terus dipacu paksa hingga batas maksimal.
"Emiko-san!" sebuah suara bariton yang menggelegar mendadak memecah konsentrasinya.
Itu adalah Sato-bucho, kepala departemen yang dikenal luas di seluruh kantor memiliki lidah setajam silet. Pria paruh baya itu berdiri di ambang pintu kantornya yang luas, menatap Emiko dengan jenis tatapan menghakimi yang bisa membuat nyali pria dewasa sekalipun menciut seketika.
"Masuk ke ruanganku. Sekarang."
Emiko bangkit berdiri dengan dada yang berdebar agak kencang, merapikan rok pensilnya yang kaku. Di dalam ruangan Sato-bucho, udara terasa jauh lebih tipis dan menekan. Pria itu bahkan tidak mempersilakannya untuk duduk. Dengan gerakan kasar, ia melempar sebuah map dokumen tebal ke atas meja kayu ek yang mewah dan mengilat.
"Klien baru saja menelepon pihak direksi sepuluh menit yang lalu. Mereka membatalkan seluruh kontrak kerja sama kita," kata Sato-bucho tanpa basa-basi, suaranya dingin menancap. "Konsep desain dan narasi iklan yang kau buat dianggap 'terlalu melankolis'. Mereka menginginkan sesuatu yang ceria, penuh energi, visual yang gegap gempita, bukan sebuah narasi sunyi tentang 'keindahan dalam kesendirian'. Kau pikir perusahaan kita ini sedang menerbitkan majalah sastra?"
"Tapi Bucho, data riset pasar yang saya kumpulkan menunjukkan bahwa konsumen generasi milenial saat ini mulai jenuh dengan visual yang terlalu bising, mereka lebih mencari..."