Labirin Ingatan di Rumah Kamakura

Tethy Ezokanzo
Chapter #7

Janji yang Mengikat

Kereta trem Enoden kecil yang membawanya dari bangunan utama Stasiun Kamakura menuju stasiun kecil sub-urban dekat rumahnya malam itu bergoyang jauh lebih keras dari biasanya. Angin laut Pasifik yang mengamuk di luar seolah sedang berusaha sekuat tenaga untuk menggulingkan gerbong tua bercat hijau-yuzu tersebut dari atas rel besinya.

Emiko berdiri menyendiri di sudut gerbong, telapak tangannya mencengkeram tiang besi penyangga dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih kaku. Di dalam tas kerjanya, ponsel itu terasa seperti seongkah batu hitam panas yang terus membakar sisa-sisa harga dirinya yang terluka. Pesan singkat dari Taro masih tersimpan di sana, berdenyut menuntut perhatian.

Saat pintu geser kereta akhirnya terbuka di stasiun tujuan, aroma laut yang pekat bercampur dengan bau tanah perbukitan yang basah langsung menyergap indra penciumannya. Ia melangkah keluar ke atas peron kecil yang sunyi melompong. Hanya ada satu lampu neon tua di atap peron yang berkedip-kedip tidak stabil, menciptakan bayangan tubuh Emiko yang tampak panjang dan patah di atas permukaan aspal yang mengilat berair layaknya cermin hitam.

Emiko berjalan kaki menyusuri gang menanjak yang sepi menuju arah rumahnya. Payung plastiknya sudah tidak sanggup lagi menahan tempias angin malam yang kencang. Bagian bawah rok kantornya sudah basah kuyup, terasa dingin, lengket, dan berat membelit kedua kakinya setiap kali ia melangkah. Namun, ia tidak peduli lagi. Rasa dingin yang menusuk kulit fisiknya sama sekali tidak sebanding dengan kekosongan menganga yang saat ini sedang merobek dadanya.

Ia akhirnya tiba di depan pagar tanaman ajisai rumah kayunya. Langkahnya terhenti selama beberapa detik, matanya menatap pendar cahaya kekuningan steril yang merembes keluar dari balik celah tirai jendela kertas shoji lantai bawah. Di dalam bangunan tradisional itu, kehidupan selalu berjalan dengan tingkat keteraturan mutlak yang mengerikan. Michiru saat ini pasti sedang menyeduh teh hijau, atau mungkin sedang melipat handuk katun di lemari dengan sudut-sudut kain yang harus bertemu sempurna satu sama lain. Dunia di luar sana bisa saja runtuh atau kiamat malam ini, namun di dalam rumah ini, Michiru akan memastikan tidak ada satu pun butir debu yang diizinkan hinggap di atas permukaan meja. Rumah ini adalah tempat perlindungan sekaligus tempat pembekuan jiwa.

Emiko mengulurkan tangannya yang gemetar, lalu menggeser pintu kayu berat itu. Srak. Suara seretan kayu tua itu bergaung memotong keheningan lorong.

"Aku pulang," bisik Emiko, suaranya sangat tipis, hampir hilang tertelan oleh suara hantaman air hujan yang deras di atas atap seng rumah.

Ia membungkukkan tubuhnya di area genkan untuk melepaskan sepatu pantofelnya yang basah. Saat wajahnya menghadap ke bawah lantai, setetes air mata hangat yang sejak dari Tokyo tadi ia tahan sekuat tenaga akhirnya jatuh juga, mendarat dengan bunyi klik halus di atas permukaan lantai kayu kayu genkan. Emiko terkejut, lalu segera mengusap pipi dan matanya dengan kasar menggunakan ujung lengan mantelnya. Ia tidak boleh terlihat lemah di dalam rumah ini.

"Kau terlambat tiga puluh menit dari jadwal kereta biasanya," suara datar Michiru terdengar memotong udara dari arah ruang makan tengah. Tidak ada nada kecemasan atau kelegaan seorang ibu di sana; itu hanyalah sebuah bentuk observasi faktual terhadap sebuah jadwal ketertiban rumah yang meleset.

Emiko melangkah masuk ke dalam lorong kayu. Kali ini ia tidak langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri atau berganti pakaian seperti prosedur biasanya. Ia berjalan lurus menuju ruang makan, berdiri mematung tepat di ambang pintu geser yang terbuka. Tubuhnya basah kuyup, dengan beberapa helai rambut hitam yang menempel kaku di permukaan pipinya yang pucat dan dingin.

Lihat selengkapnya