Labirin Ingatan di Rumah Kamakura

Tethy Ezokanzo
Chapter #8

Kabut di Atas Bukit Yuigahama

Pagi hari setelah badai emosi itu, Kamakura terbangun dalam selimut kabut putih yang tebal. Kabut itu turun dari bukit-bukit yang mengelilingi kota, merayap masuk ke celah-celah rumah kayu, dan menyembunyikan garis pantai Yuigahama dari pandangan. Bagi Emiko, kabut ini terasa seperti perpanjangan dari jiwanya, buram, dingin, dan menyesatkan.

Emiko tidak berangkat ke kantor. Tubuhnya terasa berat, suhunya sedikit naik, dan matanya bengkak akibat tangis tertahan semalam. Ia mengirim pesan singkat ke kantor, sebuah kebohongan tentang demam yang mendadak, meskipun sebenarnya hatinya yang sedang meradang.

Ia berdiri di engawa, teras kayu samping rumah, menatap taman kecil yang kini tampak seperti lukisan cat air yang luntur. Suara tetesan air dari daun pohon ajisai (hortensia) yang belum berbunga terdengar seperti ketukan jari yang tak sabar. Kamakura di musim hujan bukan sekadar tempat wisata, ia adalah sebuah kuil kesunyian.

Di kejauhan, ia mendengar bunyi lonceng kuil yang samar, lalu disusul suara kereta Enoden yang membelah kabut. Suara itu terasa sangat jauh, seolah-olah dunia luar sudah tidak lagi memiliki kaitan dengannya.

"Kau tidak berangkat?" suara Michiru memecah lamunan Emiko.

Michiru muncul dari balik pintu geser, membawa sebuah baki berisi semangkuk bubur nasi putih yang lembut dan segelas teh hijau hangat. Wajahnya tetap sama, datar, tenang, seolah pertengkaran hebat semalam tidak pernah terjadi. Bagi Michiru, emosi semalam adalah sampah yang sudah ia sapu bersih pagi-pagi sekali bersama guguran daun di halaman.

"Aku kurang enak badan," jawab Emiko tanpa menoleh.

"Duduklah. Makan selagi hangat," kata Michiru. Ia meletakkan baki itu di atas lantai kayu, lalu duduk di sana, menatap ke arah kabut yang sama dengan Emiko.

Mereka duduk bersisian, namun jarak tiga puluh sentimeter di antara mereka terasa seperti jurang yang tak berdasar. Emiko menatap uap yang keluar dari mangkuk buburnya. Tiba-tiba, rasa lapar emosional yang ia rasakan semalam kembali muncul, kali ini lebih kuat, lebih menyakitkan.

Ia melihat profil wajah ibunya dari samping. Michiru tampak sangat cantik dalam ketenangannya yang dingin. Kulitnya yang pucat, garis rahangnya yang tegas, dan matanya yang selalu menatap lurus ke depan. Emiko merenung, di balik kulit yang tanpa cela itu, terbuat dari apa sebenarnya hati ibunya? Apakah dari marmer? Atau dari es yang tak akan pernah cair meski dipanggang matahari musim panas?

"Ibu," panggil Emiko pelan. "Apakah Ibu pernah mencintai Ayah?"

Michiru tidak segera menjawab. Ia mengatur lipatan yukata rumahnya dengan sangat teliti. "Cinta adalah kata yang terlalu besar untuk kehidupan yang sederhana, Emiko. Kami menikah, kami merawat rumah ini, dan kami memilikimu. Itu sudah cukup."

"Itu bukan jawaban atas pertanyaanku," desak Emiko. "Apakah Ibu pernah merasa... ingin bersandar pada seseorang? Benar-benar bersandar hingga seluruh bebanmu hilang?"

Michiru menghela napas, sebuah suara yang sangat langka keluar dari bibirnya. "Bersandar hanya akan membuatmu jatuh saat penyangganya bergeser. Satu-satunya hal yang bisa kau percayai di dunia ini adalah tulang punggungmu sendiri."

Emiko merasakan dadanya sesak. Ia meletakkan mangkuk buburnya yang belum tersentuh. Rasa demam di tubuhnya membuat perasaannya menjadi lebih sensitif. Ia tidak butuh nasihat tentang ketangguhan. Ia tidak butuh instruksi tentang kemandirian. Ia hanya butuh ibunya.

Dengan gerakan yang sangat perlahan, seolah-olah ia sedang mendekati seekor hewan liar yang mudah terkejut, Emiko menggeser duduknya. Ia mendekat ke arah Michiru. Jarak tiga puluh sentimeter itu terpangkas menjadi sepuluh, lalu lima.

Emiko bisa mencium aroma sabun mandi sandalwood yang selalu dipakai ibunya. Ia merasakan hawa tubuh Michiru. Dengan sisa keberaniannya, Emiko menyandarkan kepalanya ke bahu ibunya. Ia memejamkan mata, membiarkan dirinya merasakan kain yukata ibunya yang kasar namun bersih.

"Sebentar saja, Bu... biarkan aku seperti ini," bisik Emiko. Suaranya pecah.

Untuk satu detik yang ajaib, Michiru tidak bergerak. Bahunya terasa sangat kokoh. Emiko merasa seperti seorang pelaut yang akhirnya menemukan dermaga setelah dihantam badai semalam di Shiodome. Ia ingin sekali tangan Michiru terangkat dan mengusap rambutnya. Ia ingin sekali mendengar detak jantung ibunya yang membuktikan bahwa ada kehidupan yang hangat di sana.

Namun, keajaiban itu hanya berlangsung satu detik.

Tubuh Michiru mendadak menegang. Bahunya yang tadi terasa kokoh kini berubah menjadi sekeras besi. Emiko merasakan dorongan halus namun tegas. Michiru tidak mendorongnya dengan kasar, ia hanya berdiri dengan gerakan yang begitu cepat sehingga kepala Emiko jatuh ke ruang kosong.

Michiru berjalan menjauh ke ujung engawa, membelakangi Emiko. Tangannya terkepal di sisi tubuhnya.

Lihat selengkapnya