Labirin Ingatan di Rumah Kamakura

Tethy Ezokanzo
Chapter #9

Gema di Balik Keramik Putih

Malam merayap turun di pinggiran perbukitan Kamakura dengan langkah-langkah yang terasa luar biasa berat dan menekan. Suara gemercik air hujan yang tadinya hanya berupa rintik gerimis halus di sore hari, kini telah sepenuhnya bertransformasi menjadi ketukan-ketukan ritmis yang sangat keras dan konstan di atas permukaan atap seng rumah. Pola hantamannya terdengar begitu agresif, seolah-olah langit malam sedang mencoba mendobrak masuk secara paksa untuk menghancurkan pertahanan rumah kayu tua yang sunyi itu.

Di dalam ruang makan lantai bawah, sisa-sisa dari hidangan makan malam yang steril masih tergeletak begitu saja di atas meja kayu rendah. Sepiring ikan makarel panggang yang hanya dicubit sedikit oleh ujung sumpit Emiko, serta semangkuk sup miso yang kini telah mendingin dan memadat, mengapung hampa tanpa disentuh lebih lanjut. Rumah ini selalu memiliki cara untuk menyedot selera makan penghuninya melalui atmosfer ketegangan domestik yang kaku.

Michiru sudah melangkah masuk ke dalam kamar tidur tatami pribadinya sejak satu jam yang lalu. Sama seperti malam-malam sepanjang lima belas tahun terakhir, tidak pernah ada ucapan "selamat tidur" atau usapan lembut di bahu. Yang ada hanyalah suara geseran pintu shoji kayu yang menutup dengan suara desis halus yang mematikan, sebuah batas kaku yang secara instan membunuh seluruh kemungkinan percakapan hangat di antara ibu dan anak.

Emiko berdiri seorang diri di tengah lorong rumah yang gelap dan panjang. Lorong kayu itu terasa menyempit, seolah-olah dinding-dinding rumah sedang bergeser merapat untuk mengurung tubuhnya. Seluruh otot di tubuh Emiko terasa kaku dan perih, menyerupai jalinan kawat besi yang ditarik terlalu kencang hingga batas maksimal. Ia membutuhkan air dingin. Ia sangat membutuhkan sesuatu untuk membilas habis rasa pahit yang pekat akibat penolakan emosional ibunya di teras engawa beberapa waktu lalu.

Ia melangkah perlahan menyusuri papan lantai menuju area kamar mandi yang terletak di bagian paling belakang struktur rumah. Kamar mandi ini adalah satu-satunya bagian dari bangunan Kamakura yang paling sedikit mengalami perubahan atau renovasi sejak ia masih balita. Dinding-dindingnya dilapisi oleh susunan keramik putih persegi berukuran kecil yang kini permukaannya sudah mulai retak-retak rambut di beberapa sudut tersembunyi, dan ubin lantainya entah kenapa selalu memiliki suhu yang jauh lebih dingin daripada suhu ruangan di sekitarnya. Kamar mandi ini terasa seperti sebuah lemari es yang sengaja dibangun di dalam rumah.

Emiko melangkah masuk, menutup pintu kayu tebal kamar mandi, lalu memutar gerendel besi kunonya hingga mengunci rapat. Bunyi klik kecil yang bergema di dalam ruangan sempit itu terdengar di telinganya menyerupai sebuah vonis isolasi total dari dunia luar. Di dalam kotak keramik ini, tidak ada yang bisa melihatnya. Tidak ada yang bisa menghakiminya.

Ia menyalakan sakelar lampu. Lampu neon tua di langit-langit berkedip-kedip tidak stabil sebanyak dua kali, menimbulkan suara dengung listrik yang mengganggu, sebelum akhirnya memancarkan cahaya putih pucat yang terasa sangat kejam dan menelanjangi. Di bawah pendaran cahaya yang steril itu, Emiko menegakkan tubuhnya, menatap lurus ke arah pantulan bayangan dirinya sendiri di dalam cermin persegi yang terpasang di atas wastafel kuningan. Permukaan cermin itu sudah sedikit berjamur dan menghitam di bagian tepiannya, menciptakan sebuah bingkai hitam tidak beraturan yang tampak mengurung wajahnya.

Wajah yang sedang menatapnya balik dari dalam cermin itu mendadak tampak seperti wajah seorang wanita asing yang tidak ia kenali. Sepasang matanya terlihat sangat cekung dengan lingkaran hitam yang dalam di sekelilingnya, menonjolkan kelelahan jiwa yang akut. Bibirnya pucat, pecah-pecah oleh hawa dingin. Dengan jemari tangan yang gemetar, Emiko menyentuh permukaan pipinya sendiri. Dingin. Kulit wajahnya terasa sangat dingin dan mati, persis seperti tekstur kulit ibunya, Michiru, setiap kali wanita itu tidak sengaja berpapasan fisik dengannya.

"Siapa sebenarnya kau?" bisiknya lirih pada pantulan di cermin. Suaranya memantul kaku di antara dinding-dinding keramik putih, terdengar sangat asing, rapuh, dan menyedihkan.

Tiba-tiba, tanpa ada peringatan atau aba-aba fisik apa pun, gelombang kesedihan yang sangat dahsyat, yang sejak siang tadi ia bendung mati-matian di kubikel Shiodome, di dalam gerbong kereta Jalur Yokosuka, dan di hadapan wajah beku ibunya, mendadak pecah berkeping-keping dengan kekuatan merusak yang tidak terbendung lagi.

Ia memutar keran air panas di wastafel hingga batas maksimal. Ia sengaja ingin suara deru air yang mengalir deras itu menelan bulat-bulat suara jeritan jiwanya agar tidak lolos keluar dinding. Emiko membungkukkan tubuhnya dalam-dalam, menumpukan kedua telapak tangannya di atas pinggiran wastafel porselen yang licin. Napasnya mulai tersengal-sengal, memburu pendek. Isakan pertama yang luar biasa perih akhirnya lolos keluar dari tenggorokannya yang kering, sebuah suara parau dan berat yang terdengar mengerikan, menyerupai suara selembar kain katun tua yang robek dipaksa.

Aku... aku ternyata tidak pernah tahu bagaimana cara mencintai seseorang dengan benar, pikirnya dengan sangat putus asa, dan premis pikiran itu menghantam dadanya telak layaknya sebuah pukulan palu besi yang berat.

Lihat selengkapnya