
Michiru memejamkan sepasang matanya erat-erat. Di balik kegelapan kelopak matanya, ia tidak melihat bayangan Emiko yang telah tumbuh dewasa menjadi wanita karier, melainkan kilasan bayangan wajah seorang pria dari masa lalu bernama Makoto, ayah kandung Emiko. Pria itu dahulu memiliki senyuman hangat yang luar biasa, jenis senyuman yang selalu mampu mencairkan hawa dingin musim dingin di pesisir Kamakura. Namun, Makoto juga memiliki sepasang mata yang selalu tampak menatap jauh melampaui garis cakrawala laut, seolah-olah pria itu secara intuitif sudah tahu bahwa jatah waktu hidupnya di atas dunia ini tidak akan pernah lama.
Makoto meninggal dunia secara tragis di usia yang masih sangat muda, tiga puluh lima tahun. Sebuah kecelakaan kerja yang mengerikan di area galangan kapal, meninggalkan Michiru seorang diri dengan seorang anak perempuan kecil yang baru berusia sepuluh tahun, serta sebuah bangunan rumah kayu besar yang mendadak terasa terlalu luas, terlalu sepi, dan terlalu dingin untuk mereka tinggali.
"Makoto... lihatlah apa yang telah kuperbuat pada anak perempuan tunggal kita," bisik Michiru lirih pada kegelapan kamar. Suaranya mendadak pecah di ujung kalimat, sebuah retakan emosional yang sangat langka dan tabu pada topeng porselen kaku yang selalu ia kenakan setiap hari.
Pintu kamar mandi di ujung lorong terdengar dibuka. Michiru mendengarkan dengan saksama langkah kaki Emiko yang terdengar berat, goyah, dan kelelahan berjalan melewati lorong kayu luar. Langkah kaki itu sempat terhenti tepat di depan pintu geser kamarnya selama beberapa detik yang terasa berjalan abadi bagi mereka berdua. Michiru seketika menahan napasnya di dalam kamar, jantungnya berdegup kencang. Ada sebuah dorongan purba dari dalam dadanya yang mendesak tangannya untuk segera menggeser pintu kayu itu, menarik tubuh Emiko yang hancur ke dalam dekapannya, dan menangis bersama meluapkan seluruh beban batin mereka.
Namun, memori hitam kelam tentang hari upacara pemakaman Makoto lima belas tahun lalu mendadak bangkit kembali dari dasar otaknya, menjelma menjadi hantu yang menakutinya.
Pada hari pemakaman yang basah itu, Michiru yang jiwanya hancur berantakan mencoba untuk memeluk erat tubuh Emiko kecil yang menangis bingung. Namun, pada detik pertama kulit mereka bersentuhan, Michiru justru didera oleh sebuah serangan rasa takut dan kecemasan psikologis yang luar biasa dahsyat dari dalam dirinya. Ia merasa ketakutan yang sangat besar bahwa jika ia membiarkan dirinya memeluk dan menyayangi Emiko terlalu dalam, ia justru akan menularkan seluruh nasib buruk, kutukan kesedihan, dan penderitaan hidupnya kepada anak itu. Ia didera trauma bahwa sebuah kehangatan keluarga adalah sebuah bentuk ilusi kutukan yang hanya akan membuat rasa kehilangan di masa depan terasa sejuta kali lebih menghancurkan urat waras.
Sejak hari pemakaman suaminya itulah, di bawah atap rumah ini, Michiru mengambil keputusan ekstrem yang kaku: Jika aku memilih untuk tidak pernah memberikannya kehangatan sejak awal, maka dia tidak akan pernah perlu merasakan sakitnya kehilangan kehangatan itu di masa depannya. Rumah ini sengaja diubahnya menjadi labirin isolasi emosional demi melindungi Emiko.
Langkah kaki Emiko di luar lorong akhirnya kembali bergerak menjauh, lalu menghilang di balik pintu kamarnya sendiri yang ditutup rapat.
Michiru mengembuskan napas panjang yang gemetar. Ia bangkit berdiri dari tatami, lalu melangkah keluar menuju area dapur. Ia membutuhkan aktivitas fisik yang konstan. Baginya, sebuah gerakan mekanis yang teratur adalah satu-satunya cara yang tersisa untuk menjaga pikirannya tetap waras dari kejaran rasa bersalah.
Di atas meja dapur, matanya tertuju pada mangkuk sup miso dingin yang sama sekali tidak disentuh oleh Emiko tadi. Dengan gerakan tangan yang kaku dan mekanis, ia mengambil mangkuk itu lalu menuangkan seluruh cairan sup miso yang mengental tersebut ke dalam lubang wastafel dapur.
Srak.
Suara seretan pintu geser dapur yang mendadak dibuka secara kasar membuat tubuh Michiru tersentak kecil. Emiko sudah berdiri mematung di ambang pintu dapur. Sepasang matanya terlihat sangat sembah dan merah habis menangis, namun di dalam manik matanya kini menyala sebuah kilatan kemarahan baru yang terasa tajam.