
Pagi itu, pesisir Kamakura tidak lagi berselimut kabut tebal yang basah. Sinar matahari yang pucat dan tipis mencoba membelah sisa-sisa awan kelabu di langit, menciptakan baris-baris bayangan panjang yang tajam di atas permukaan lantai kayu koridor rumah tua itu. Michiru sudah melangkah pergi meninggalkan rumah sejak pukul tujuh pagi; ia memiliki jadwal rutin yang kaku untuk menjadi relawan perapian buku di perpustakaan kota setiap hari Jumat. Kepergian ibunya pagi ini memberikan sesuatu yang sangat langka sekaligus asing bagi Emiko: sebuah kebebasan yang mutlak di dalam rumahnya sendiri.
Emiko berdiri mematung di tengah lorong tengah, jemarinya menggenggam erat kartu nama kecil milik Dr. Ren Sato. Ibu jarinya sudah berada di atas layar ponsel, siap untuk menekan tombol panggil menuju klinik psikiatri di Tokyo, namun sepasang matanya terus-menerus teralihkan oleh sebuah celah kotak kecil di langit-langit lorong bagian belakang. Itu adalah pintu menuju loteng, sebuah ruang isolasi teratas yang selama dua puluh lima tahun usia hidupnya di sini hampir selalu ia anggap tidak pernah ada.
Entah kenapa, sisa amarah dan luapan emosinya yang pecah di dapur semalam seolah meninggalkan sebuah residu rasa ingin tahu yang membakar di dalam dadanya. Ucapan defensif ibunya tentang "beban kegelapan yang ditinggalkan oleh ayahmu" terus berputar-putar di dalam kepalanya layaknya kaset rusak. Jika mendiang Ayah memang meninggalkan sebuah beban besar, di mana tepatnya seluruh beban itu disimpan? Struktur rumah ini terlalu rapi, terlalu bersih, dan terlalu teratur. Tidak ada sudut ruangan bawah yang diizinkan berantakan untuk menyimpan beban masa lalu, kecuali di satu-satunya tempat yang tak pernah tersentuh oleh langkah kakinya: loteng rumah.
Emiko menurunkan ponselnya, meletakkannya di atas meja kayu kecil di lorong. Keputusannya telah bulat. Ia membatalkan niatnya untuk menelepon klinik pagi ini. Jawaban terbesar yang ia cari selama ini mungkin tidak terletak di atas sofa empuk ruang praktik psikiater, melainkan berada tepat di atas kepalanya sendiri, terkunci di balik langit-langit kayu rumah.
Ia mengambil sebuah kursi kayu berkaki tinggi dari ruang makan, menjadikannya tumpuan. Dengan mengerahkan sisa tenaga, tangan Emiko meraih dan menarik tuas besi pintu loteng yang sudah berkarat pekat. Suara derit gesekan besi tua yang beradu dengan serat kayu lapuk bergaung nyaring di dalam lorong sunyi, terdengar menyerupai sebuah jeritan peringatan dari rumah itu sendiri. Saat pintu kotak itu berhasil ditarik terbuka, sekelompok gumpalan debu tebal langsung jatuh berhamburan ke bawah, membawa serta sejenis aroma yang sangat spesifik: aroma kertas-kertas tua yang menguning, kapur barus yang hampir habis menguap, dan kayu lapuk yang lembap.
Aroma itu sama sekali bukan aroma hujan asin yang biasa ia hirup di peron Stasiun Kamakura. Ini adalah aroma dari sebuah waktu domestik yang dipaksa berhenti bergerak.
Emiko mulai memanjat undakan tangga kayu lipat yang terasa rapuh. Setiap anak tangga yang diinjak oleh berat tubuhnya mengeluarkan bunyi gemeretak kaku, membuat detak jantung di dalam dadanya berdegup kencang karena cemas. Ketika seluruh kepalanya berhasil melewati ambang batas lantai loteng, kegelapan pekat langsung menyambut indranya. Udara di atas sini terasa sangat pengap, panas, dan menjebak. Ia segera menyalakan lampu senter dari ponselnya.
Sinar lampu ponselnya membelah kegelapan loteng, menampakkan tumpukan barang-barang kuno yang diselimuti oleh bentangan kain putih yang seluruh permukaannya telah menguning dimakan usia. Ada perabotan kayu tua, koper-koper usang dari kulit, serta tumpukan buku sekolah zaman dahulu yang sepertinya merupakan milik ayahnya sewaktu muda. Segalanya disusun dengan tingkat ketelitian dan kerapian yang obsesif, ciri khas mutlak dari sentuhan tangan Michiru, namun entah kenapa pemandangan itu justru tetap terasa menyerupai sebuah kompleks pemakaman massal bagi benda-benda kenangan yang sengaja disingkirkan dari lantai bawah.
Emiko melangkah dengan sangat hati-hati di atas papan kayu, menghindari bagian lantai yang tampak rapuh atau melentur. Ia berjalan mendekati sebuah sudut terdalam yang letaknya paling jauh dari lubang pintu masuk. Di sana, tertumpuk rapi di bawah kolong meja kecil, ada sebuah kotak kayu kiri (kayu paulownia tradisional) yang biasanya hanya digunakan oleh keluarga Jepang untuk menyimpan kain kimono sutra yang berharga tinggi. Namun, kotak kayu khusus ini sama sekali tidak memiliki label kertas atau penanda apa pun di bagian luarnya.
Ia menjatuhkan kedua lututnya, berlutut di depan kotak kayu tersebut. Telapak tangannya gemetar hebat saat ia mencoba menyentuh permukaan kayu paulownia yang kasar dan berdebu. Di atas tutup kotak, ada selembar segel kertas kecil yang kondisinya sudah sobek terbelah, menampilkan baris tulisan kanji hitam yang nyaris pudar akibat kelembapan: Makoto Akasaka.
Napas Emiko seketika tertahan di tenggorokan. Ini dia. Ini kotak pelindung milik Ayah.