
"Emiko? Kau... kau benar-benar sedang berada di atas sana?" Suara Michiru kini terdengar tepat berada di bawah lubang tangga loteng. Nada suaranya bukan lagi sekadar pertanyaan interogasi biasa; ada sebuah getaran tajam yang menyerupai ketakutan primordial di sana, sebuah emosi manusiawi yang sangat jarang diperlihatkan oleh wanita pilar es itu.
Emiko terengah pendek. Ia tahu ia tidak memiliki ruang lagi untuk lari atau bersembunyi. Di dalam ruang loteng yang sempit dan rendah ini, ia telah sepenuhnya terjebak di antara tumpukan kenangan yang sengaja dikubur hidup-hidup. Ia memeluk kotak kayu paulownia itu erat-erat ke dadanya, seolah-olah benda mati itu adalah satu-satunya perisai pelindung yang ia miliki saat ini.
"Iya, Ibu. Aku... aku ada di sini," jawab Emiko dengan suara yang parau.
Kepala Michiru perlahan muncul di ambang batas lantai loteng. Pendaran cahaya lampu kuning dari koridor bawah menyinari siluet wajah paruh bayanya dari arah bawah, menciptakan bayangan gelap yang dramatis dan mengerikan di area rongga matanya. Untuk pertama kalinya sepanjang hidup bersama, Emiko menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana ibunya benar-benar kehilangan seluruh kendali ketenangannya. Sepasang mata Michiru terbelalak lebar saat melihat kotak kayu kiri milik mendiang suaminya telah berada terbuka di dalam pelukan Emiko.
Wajah Michiru mendadak berubah pucat pasi, tampak lebih putih dan mati daripada sisa debu yang beterbangan di udara loteng.
"Turun. Sekarang juga," perintah Michiru. Suaranya terdengar sangat rendah, bergetar kencang, dan dipenuhi oleh sejenis ancaman histeris yang ditahan sekuat tenaga.
Emiko sama sekali tidak bergeming dari posisinya. Ia membalas menatap lurus ke dalam mata ibunya dengan sejenis keberanian nekat yang lahir dari rasa sakit batin yang telah mencapai batas puncaknya. "Kenapa... kenapa Ibu tega menyembunyikan semua kebenaran ini dariku? Kenapa ada selembar surat wasiat yang ditulis khusus untukku, namun tidak pernah Ibu berikan?!"
Michiru memanjat naik lebih tinggi hingga seluruh tubuhnya kini berdiri di atas lantai kayu loteng yang goyah. Ia bahkan tidak memedulikan lagi debu-debu kotor yang langsung mengotori pakaian yukata kerjanya yang biasanya selalu rapi tanpa cela. Ia melangkah maju dengan cepat, kedua tangannya terulur kasar untuk merebut kotak kayu dari dekapan anaknya.
"Bukan urusanmu! Itu adalah barang pribadi milik mendiang ayahmu yang seharusnya tetap tinggal terkubur mati di sini!"
"Ayah menulis surat ini jelas-kesat untuk diriku, Ibu! 'Untuk Emiko saat kau sudah cukup besar untuk mengerti', begitu baris kalimat yang tertulis di depannya! Aku sekarang sudah berusia dua puluh lima tahun, Ibu! Apa aku masih dianggap belum cukup besar untuk berhak tahu alasan mengapa ibu kandungku sendiri selalu memperlakukan diriku menyerupai seorang asing selama belasan tahun ini?!"
Michiru menyambar pinggiran kotak kayu itu dengan curahan kekuatan fisik yang tak terduga. Terjadilah sebuah pergulatan fisik kecil di antara ibu dan anak di tengah kegelapan ruang loteng yang pengap. Lembaran foto-foto lama di dalam kain sutra seketika berhamburan jatuh ke atas lantai kayu, tersebar berantakan di antara tumpukan debu. Salah satunya adalah selembar foto pernikahan mereka dahulu yang kertasnya sudah menguning, sebuah foto langka di mana Michiru tampak terlihat begitu cantik, bersinar, dan... bahagia.
"Kau... kau tidak akan pernah mengerti!" raung Michiru, suaranya pecah menjadi histeris. Ia akhirnya berhasil merebut paksa kotak kayu paulownia itu, namun lembaran surat biru tua itu masih berada di dalam genggaman erat jemari Emiko. "Kau pikir sebuah kebenaran masa lalu akan bisa membuat hidupmu bahagia?! Kau pikir dengan mengetahui rahasia lama akan bisa mencairkan hawa dingin rumah ini?! Tidak, Emiko! Kebenaran itu hanya akan menghancurkan urat warasmu, sama persis seperti ia telah menghancurkan hidup ayahmu dulu!"