Labirin Ingatan di Rumah Kamakura

Tethy Ezokanzo
Chapter #13

Cahaya di Sela Daun Shiodome

Emiko terbangun dengan perasaan yang aneh, sebuah kombinasi antara harapan dan kecemasan yang mendalam. Sinar matahari menyelinap masuk lewat celah tirai kamarnya, menyinari kartu nama dr. Ren Sato yang tergeletak di meja samping tempat tidur. Rencananya sudah bulat: hari ini ia akan membawa Michiru ke Tokyo. Ia akan memaksa ibunya menghadapi kenyataan, bukan dengan kekerasan, melainkan dengan tangan yang terulur.

Ia bangkit, merapikan yukata tidurnya, dan melangkah keluar menuju dapur. Ia mengharapkan aroma sup miso yang mengepul atau suara denting piring yang sedang dicuci. Ia mengharapkan sosok kaku Michiru yang berdiri di depan wastafel, mungkin dengan kecanggungan baru setelah kontak fisik mereka di loteng kemarin.

Namun, dapur itu kosong.

Udara di dalamnya terasa begitu diam, seolah-olah waktu telah berhenti berdetak di sana sejak semalam. Kompor dingin. Teko teh masih berada di tempatnya semula, kering dan tanpa uap.

"Ibu?" panggil Emiko. Suaranya memantul di dinding dapur yang sunyi.

Tidak ada jawaban.

Emiko berjalan menuju kamar Michiru. Ia menggeser pintu shoji dengan hati-hati. Kamar itu tertata sangat rapi,terlalu rapi. Futon sudah dilipat sempurna dan disimpan di dalam lemari. Tidak ada satu pun helai rambut di atas tatami. Namun, ada sesuatu yang hilang. Lemari kecil tempat Michiru menyimpan barang-barang pribadinya sedikit terbuka. Tas jinjing kain yang biasa ibunya bawa ke perpustakaan tidak ada di sana.

Jantung Emiko mulai berdegup kencang. Ia berlari ke genkan. Sepatu jalan milik Michiru telah lenyap.

"Ibu! Ini tidak lucu!" Emiko berteriak, kali ini dengan nada panik yang mulai merayap di tenggorokannya.

Ia kembali ke ruang tengah dan menemukan secarik kertas kecil di atas meja rendah. Tulisan tangan di sana sangat rapi, namun garis-garis hurufnya tampak sedikit bergetar, seolah-olah ditulis oleh tangan yang sedang menahan luapan emosi yang hebat.

’Emiko, kau benar. Sentuhan itu... hangat. Terlalu hangat. Aku mendengar suara laut memanggilku lagi semalam. Aku harus pergi sebelum api di kepalaku membakar rumah ini. Jangan mencariku. Jaga dirimu baik-baik.’

Darah Emiko seolah berhenti mengalir. "Suara laut... kutukan itu," bisiknya dengan bibir gemetar.

Ia segera mengambil ponselnya, mencoba menghubungi nomor Michiru. Namun, suara operator yang dingin menyambutnya: "Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan..."

Emiko jatuh terduduk di atas tatami. Ia merasa seperti baru saja diberikan kunci surga hanya untuk melihat pintunya dibakar di depan matanya. Michiru tidak punya saudara. Setelah kematian Makoto, Michiru memutus hubungan dengan semua teman lamanya. Ia tidak punya tempat untuk pergi. Baginya, dunia adalah Kamakura, dan Kamakura adalah rumah ini. Jika ia pergi, maka tujuannya hanyalah satu: tempat di mana ibunya dulu mengakhiri hidup.

Laut Yuigahama.

Tanpa memedulikan penampilannya yang masih mengenakan pakaian rumah, Emiko menyambar jaketnya dan berlari keluar.

Kamakura pagi ini sedang dalam kondisi transisi. Sisa-sisa hujan semalam meninggalkan genangan air di jalanan sempit yang memantulkan langit kelabu. Emiko berlari menyusuri jalanan menuju stasiun. Pikirannya kalut. Ia teringat cerita Michiru tentang "Kutukan Musim Hujan". Apakah pengakuan di loteng kemarin adalah pemicunya? Apakah kejujuran yang ia paksakan justru menjadi beban yang memecahkan bendungan di otak ibunya?

Ia sampai di depan Stasiun Kamakura. Kerumunan turis mulai berdatangan dengan kamera dan tawa mereka yang kontras dengan badai di hati Emiko. Ia mencari ke sekeliling peron, menatap setiap wanita paruh baya yang mengenakan yukata atau pakaian kaku. Namun, sosok Michiru yang tegak bagai pilar tidak terlihat di mana pun.

"Permisi!" Emiko menghampiri seorang petugas stasiun. "Apakah Anda melihat seorang wanita paruh baya, rambutnya disanggul rapi, memakai tas kain biru? Dia terlihat... sedikit bingung?"

Petugas itu menggeleng. "Maaf, Nona. Sejak pagi tadi sudah ada ribuan orang lewat sini. Saya tidak memperhatikannya."

Emiko berlari keluar stasiun. Ia menuju halte bus, lalu ke pasar tradisional, hingga ke perpustakaan kota tempat ibunya biasa menjadi relawan. Perpustakaan itu baru saja dibuka.

"Michiru-san tidak datang hari ini," ujar seorang pustakawan tua dengan tatapan bingung. "Padahal dia orang yang paling tepat waktu yang pernah saya kenal. Ada apa, Emiko-san?"

"Jika dia datang, tolong segera hubungi aku!" Emiko tidak menunggu jawaban. Ia kembali berlari.

Kini tujuannya adalah Pantai Yuigahama. Jika kutukan itu benar-benar menguasai Michiru, maka ibunya akan ditarik oleh aroma laut yang sama yang menelan neneknya.

Langkah kaki Emiko terasa berat saat ia menapaki pasir pantai yang masih basah. Angin laut bertiup kencang, membawa aroma garam yang tajam dan dingin. Pantai itu luas dan sepi. Hanya ada beberapa burung camar yang terbang rendah, mengeluarkan suara pekikan yang terdengar seperti tangisan.

Emiko menyisir garis pantai. Ia berteriak memanggil nama ibunya hingga suaranya serak. Ia menatap ke arah ombak kelabu yang bergulung-gulung. "Ibu! Michiru! Jawab aku!"

Namun, hanya deru ombak yang menjawabnya. Tidak ada tanda-tanda Michiru di sana. Tidak ada tas kain biru yang tergeletak di pasir. Tidak ada jejak kaki yang menuju ke arah laut.

Lihat selengkapnya